VISI | Ketika Tangan Ditangkap
Oleh: Prof. Ganjar Kurnia
Di suatu malam, sebuah tangan ditangkap. Tangan itu tampak kebingungan.
“Saya hanya menjalankan perintah,” katanya.
“Perintah siapa?”
Tangan menunjuk ke lengan. Lengan menunjuk ke bahu. Bahu menunjuk ke kepala. Kepala segera menggeleng dan menyatakan tidak mengenal bagian-bagian tubuhnya sendiri.
Demikianlah anatomi birokrasi bekerja. Ketika menerima uang, seluruh anggota badan merupakan satu kesatuan. Namun, ketika petugas datang, tubuh mendadak menganut otonomi daerah. Tangan kanan tidak mengenal tangan kiri. Mata tidak pernah melihat. Telinga hanya mendengar desas-desus. Mulut sedang menjalankan ibadah diam. Adapun hati telah lama dipindahtugaskan ke tempat yang tidak diketahui alamatnya.
Di atas meja, amplop cokelat menggigil. Ia bersumpah bahwa dirinya hanyalah alat tulis kantor. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya tiba-tiba menjadi gemuk. Barangkali karena terlalu banyak makan angin, atau salah mengonsumsi vitamin proyek.
Ketika dibuka, beberapa lembar uang rupiah dan valuta asing melompat keluar. Selembar pecahan seratus ribu menangis tersedu-sedu.
“Saya korban,” katanya.
“Sejak dicetak, cita-cita saya hanya ingin membeli beras, membayar sekolah, atau diselipkan seorang nenek ke dalam saku cucunya. Tetapi takdir membawa saya masuk ke amplop, naik mobil gelap, lalu duduk bersama orang-orang yang berbicara dengan suara kecil tentang angka-angka besar.”
Kopi di atas meja segera menjadi saksi. Namun, setelah dimintai keterangan, kopi itu mengaku ketika kejadian, sudah dingin dan lupa segala peristiwanya. Sendok memilih bungkam. Kursi merasa tidak pernah diduduki siapa pun. Bahkan kamera pengawas mendadak rabun karena terlalu lama menatap kekuasaan.
Beberapa saat kemudian, berita OTT berlari ke televisi. Para pembawa acara memasang wajah paling serius. Kata diduga beterbangan di studio seperti kelelawar yang takut matahari. Di bawah layar, huruf-huruf merah berlari membawa kabar: pejabat X diamankan, uang sekian miliar disita, sejumlah ruangan disegel.
Di rumah-rumah, rakyat menonton sambil menghitung uang belanja. Mereka takjub mengetahui bahwa sebuah tas kecil dapat memuat uang sebanyak anggaran satu kecamatan. Seorang petani memandang karung pupuknya yang kosong. Seorang guru honorer memandang dompetnya yang lebih jujur daripada saldo rekeningnya. Seorang pedagang gorengan mulai semangat bahwa tahu isi pun sepatutnya bisa mengikuti tender.
Keesokan harinya, orang yang tertangkap keluar dari gedung pemeriksaan dengan rompi berwarna mencolok. Ia tersenyum dan melambaikan tangan kepada wartawan, seperti baru memenangkan lomba kebersihan antar kementerian.
“Saya menghormati proses hukum,” katanya.
Kalimat itu kemudian dimasukkan ke dalam mesin fotokopi. Dicetak seribu lembar. Dibagikan kepada siapa saja yang kelak membutuhkannya.
Di tempat lain, para sahabatnya mengadakan rapat darurat. Mereka sepakat bahwa kejadian tersebut merupakan musibah, cobaan, fitnah, kriminalisasi, atau kesalahpahaman. Tak seorang pun menyebut keserakahan karena kata itu dianggap tidak sopan di lingkungan terhormat.
Sementara itu, proyek tetap berjalan. Jalan yang belum dibangun sudah diresmikan. Jembatan yang belum selesai telah diberi nama. Anggaran yang hilang dicatat sebagai perjalanan dinas menuju masa depan. Auditor datang membawa penggaris, tetapi angka-angka telah berubah menjadi belut dan menyelinap di antara pasal-pasal.
OTT pun selesai. Tangan yang tertangkap dibawa pergi. Akan tetapi, di banyak ruangan, tangan-tangan lain segera belajar memakai sarung tangan. Mereka berlatih menerima tanpa menyentuh, memberi tanpa terlihat, dan mengangguk tanpa menggerakkan kepala.
Dari berbagai kejadian itu, kita memahami satu pelajaran penting: yang paling menakutkan bukanlah tangan yang tertangkap, melainkan tangan-tangan yang tetap bebas karena telah pandai mencuci dirinya sebelum sabun sempat bertanya dari mana datangnya noda.
150926
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!