VISI | Ketika Pemimpin Dikultuskan

ED
Senin, 26 Januari 2026 | 06:49 WIB
Bagikan
VISI | Ketika Pemimpin Dikultuskan

Ketika pemimpin dikultuskan, kebenaran menjadi relatif. Yang salah bisa dibenarkan, yang benar bisa disingkirkan. Lingkaran kekuasaan menjadi ruang gema, di mana suara pemimpin dipantulkan berkali-kali tanpa pernah diuji. Dalam ruang seperti ini, kejujuran tersisih, dan keberanian menjadi beban.

Tulisan ini bukan ajakan untuk membenci pemimpin, melainkan mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak membutuhkan kultus. Pemimpin yang baik tidak haus sanjungan, tidak alergi kritik, dan tidak merasa dirinya selalu benar. Ia justru membuka ruang koreksi, karena sadar bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan mahkota. Terlebih bagi pemimpin pendidikan, adab adalah fondasi. Kehati-hatian dalam berbicara, keteladanan dalam bersikap, dan kejujuran dalam mengambil keputusan adalah syarat mutlak. Tanpa itu semua, pendidikan akan kehilangan arah, dan generasi yang lahir hanyalah peniru kekuasaan, bukan penjaga nilai.

Ketika pemimpin dikultuskan, negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Namun harapan selalu ada, selama masih ada keberanian untuk mengingatkan, menulis, dan berkata jujur—meski dengan suara yang pelan, namun konsisten.***

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.