VISI | Ketika Pemimpin Dikultuskan
Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
NEGERI ini sesungguhnya tidak kehabisan orang cerdas. Dari bangku sekolah hingga perguruan tinggi, dari desa hingga kota, kita menyimpan banyak potensi akal dan gagasan. Namun sayangnya, kecerdasan tidak selalu beriringan dengan kejujuran. Justru di titik inilah persoalan besar itu bermula. Orang pintar boleh banyak, tetapi orang jujur terasa semakin langka. Maka tidak mengherankan jika panggung kehidupan berbangsa dan bernegara kerap diisi oleh wajah-wajah yang jauh dari amanah—mereka yang dengan ringan menukar kepercayaan publik dengan kepentingan pribadi.
Ironisnya, ketika praktik korupsi terbongkar, sebagian dari mereka tampil tanpa rasa bersalah. Mengenakan rompi tahanan berwarna mencolok, tangan terborgol, namun wajah tetap tersenyum, bahkan melambaikan tangan ke kamera. Pemandangan ini seolah menjadi tontonan rutin. Bukan lagi sesuatu yang memalukan, melainkan seperti peran yang sudah dihafal. Bisa jadi, keberanian semu itu lahir karena keyakinan bahwa hukum di negeri ini masih sering tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Mereka merasa aman, atau setidaknya berharap akan aman, karena kekuasaan, jejaring, dan pengaruh masih bisa bekerja di balik layar.
Apa yang terjadi di ruang kekuasaan, cepat atau lambat, akan menetes ke ruang-ruang lain, termasuk dunia pendidikan. Ketika pemimpin tidak memberi teladan, jangan heran jika ketidakdisiplinan dianggap hal biasa. Terlambat masuk kelas, bolos mengajar, atau bekerja sekadar menggugurkan kewajiban, sering kali dianggap kesalahan kecil, bahkan dimaklumi. Padahal, sikap-sikap inilah yang perlahan merusak marwah profesi pendidik.
Perilaku semacam ini tidak lahir di ruang hampa. Lingkungan sangat berpengaruh, terlebih jika contoh buruk datang dari atas. Ketika pemimpin terbiasa mengabaikan etika, menghalalkan segala cara, atau bersikap sewenang-wenang, maka pesan yang ditangkap bawahan menjadi jelas: integritas bukan hal utama. Yang penting patuh, loyal, dan tahu diri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!