VISI | Ketika Pemimpin Dikultuskan
Lebih berbahaya lagi, ketika setiap ucapan pemimpin dianggap sabda. Apa pun pendapatnya, meski keliru, harus dibenarkan. Siapa yang berani berbeda, siap menerima konsekuensi. Dalam kondisi seperti ini, nalar kritis mati perlahan. Kejujuran menjadi barang mahal, karena berkata benar justru berisiko.
Tidak dapat dimungkiri, sebagian pemimpin hari ini lahir bukan karena kapasitas, melainkan karena koneksi. Nepotisme, kedekatan keluarga, kesamaan kelompok atau partai, balas budi, bahkan kekuatan finansial, menjadi jalan pintas menuju jabatan. Proses yang semestinya menjaring yang terbaik, berubah menjadi sekadar formalitas. Akibatnya, jabatan yang seharusnya diemban dengan kebijaksanaan justru diperlakukan sebagai panggung pemujaan diri. Pemimpin ingin terus disanjung. Wajahnya terpampang di mana-mana, fotonya memenuhi ruang publik, suaranya dianggap kebenaran mutlak. Ke mana pun ia melangkah, rombongan harus mengikuti. Apa pun yang ia unggah di media sosial, bawahan merasa wajib memberi tanda suka, seolah itu bagian dari loyalitas.
Di titik inilah kultus terhadap pemimpin mulai tumbuh. Bukan lagi dihormati karena keteladanan, melainkan ditakuti karena kuasa. Bukan diikuti karena kebijaksanaan, melainkan karena jabatan.
Bahaya Kultus dalam Pendidikan
Kondisi ini menjadi jauh lebih mengkhawatirkan ketika terjadi di dunia pendidikan. Pemimpin pendidikan sejatinya adalah penjaga nilai. Ia tidak hanya mengelola sistem, tetapi juga menjadi cermin adab dan akhlak. Setiap tutur katanya, setiap kebijakannya, akan menjadi rujukan moral bagi guru dan peserta didik. Ketika pemimpin pendidikan berbicara tanpa kehati-hatian, menyampaikan pernyataan keliru, atau memberi contoh buruk, dampaknya tidak sederhana. Ia merusak fondasi karakter. Pendidikan kehilangan ruhnya, berubah menjadi rutinitas administratif tanpa nilai.
Pemimpin pendidikan seharusnya paling sadar bahwa kuasa bukan untuk dipertontonkan, melainkan untuk melayani. Bahwa jabatan bukan untuk disanjung, melainkan untuk dipertanggungjawabkan. Ketika prinsip ini terbalik, yang lahir bukan generasi beradab, melainkan generasi yang belajar bahwa kekuasaan adalah segalanya. Menghormati pemimpin adalah bagian dari budaya dan etika sosial. Namun menghormati berbeda dengan mengkultuskan. Takzim lahir dari keteladanan, sementara kultus lahir dari ketakutan dan kepentingan. Takzim membuka ruang dialog, kultus menutup pintu kritik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!