VISI | Bancakan
Indonesia dianugerahi kekayaan yang membuat banyak bangsa berdecak kagum. Gunung yang subur. Laut yang luas. Hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia. Mineral yang melimpah. Tanah yang menghasilkan berbagai komoditas.
Semua itu adalah karunia Allah SWT yang luar biasa. Konstitusi pun telah memberikan arah yang jelas. Kekayaan alam dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata dalam dokumen negara, melainkan kompas moral yang seharusnya menuntun setiap kebijakan. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa kekayaan alam saja tidak cukup menjadikan sebuah bangsa besar. Yang menentukan adalah kualitas manusia yang mengelolanya.
Dalam tradisi masyarakat kita, dikenal istilah bancakan. Bancakan adalah simbol syukur. Masyarakat berkumpul. Makanan disusun bersama. Semua menikmati tanpa memandang kedudukan. Tidak ada yang merasa paling berhak. Tidak ada yang mengambil lebih dahulu. Semangatnya adalah berbagi kebahagiaan. Nilai yang lahir dari gotong royong dan rasa syukur. Sayangnya, dalam kehidupan publik, istilah itu kadang dipakai secara sinis. Bancakan berubah makna. Bukan lagi berbagi nikmat sebagai ungkapan syukur. Melainkan berbagi kekuasaan, berbagi pengaruh, berbagi keuntungan bagi kelompok sendiri. Ketika kepentingan publik bergeser menjadi kepentingan sempit, kepercayaan masyarakat perlahan terkikis.
Jabatan sesungguhnya bukan hadiah. Ia adalah titipan. Ia bukan tanda bahwa seseorang lebih mulia daripada yang lain. Ia adalah tanggung jawab yang kelak dipertanyakan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Karena itu, setiap jabatan seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula kewajibannya untuk melayani. Bukan untuk dilayani.
Sebagai guru, penulis sering mengajarkan kepada peserta didik bahwa pemimpin bukanlah orang yang paling banyak memerintah. Pemimpin adalah orang yang paling besar tanggung jawabnya. Anak-anak memahami pelajaran itu dengan sangat sederhana. Mereka tahu bahwa ketua kelas harus datang lebih awal. Harus membantu teman-temannya. Harus menjadi teladan. Ironisnya, pelajaran sederhana itu kadang terasa jauh lebih sulit dipraktikkan ketika seseorang telah dewasa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!