VISI | Bancakan
Menjelang usia ke-81 republik ini, barangkali yang paling dibutuhkan bukan hanya perayaan yang meriah. Yang lebih penting adalah perenungan. Apakah amanah telah dijalankan dengan sebaik-baiknya? Apakah kebijakan benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat luas? Apakah ruang bagi lahirnya generasi yang cerdas, jujur, dan berintegritas semakin terbuka?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak ditujukan kepada satu golongan saja. Ia adalah pertanyaan bagi kita semua. Karena bangsa dibangun bukan hanya oleh para pemimpin, melainkan juga oleh guru, orang tua, pelajar, pekerja, petani, nelayan, tenaga kesehatan, aparat, akademisi, pelaku usaha, dan seluruh warga negara.
Indonesia terlalu berharga untuk diperlakukan sebagai milik segelintir orang. Ia adalah rumah bersama. Rumah yang diwariskan oleh para pendiri bangsa dengan pengorbanan yang tidak ternilai. Rumah yang harus dijaga dengan kejujuran, kerja keras, dan rasa tanggung jawab. Marilah kita kembalikan makna bancakan kepada makna yang sesungguhnya. Bukan pesta berbagi kekuasaan. Bukan pembagian kepentingan. Melainkan syukur yang diwujudkan dalam semangat berbagi manfaat, berbagi kesempatan, dan berbagi pengabdian.
Sebab kemerdekaan bukanlah tentang siapa yang paling banyak memperoleh. Kemerdekaan adalah tentang seberapa besar kita mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan harapan bagi seluruh anak bangsa. Dan selama ruang-ruang kelas masih dipenuhi guru yang mengajarkan kejujuran, selama orang tua masih menanamkan adab kepada anak-anaknya, dan selama masih ada warga yang mencintai negeri ini dengan hati yang tulus, Indonesia akan selalu memiliki alasan untuk berharap.
Semoga pada usia ke-81 ini, bangsa kita bukan hanya bertambah tua, tetapi juga bertambah dewasa; bukan hanya semakin kuat secara lahir, tetapi juga semakin kokoh dalam menjaga amanah yang diwariskan oleh para pendiri negeri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!