AI Ubah Cara Cari Produk, Rekomendasi Manusia Tetap Dorong Pembelian 27 Jul 2026 Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026 Fauzi Amro: DPR Siap Jalankan Fit and Proper Test Calon Gubernur BI 27 Jul 2026 Sistem Eror BPN Bandung Dikeluhkan Warga, Dinilai Buka Celah Praktik Pungli 27 Jul 2026 200 Personel Gabungan Siaga Pascabentrokan Maut di Menteng 27 Jul 2026 AI Ubah Cara Cari Produk, Rekomendasi Manusia Tetap Dorong Pembelian 27 Jul 2026 Pemprov Jatim Perkuat Langkah JFC Menuju Panggung Pariwisata Dunia 27 Jul 2026 Kemenpar Tegaskan JFC Jadi Etalase Pariwisata Indonesia di Mata Dunia 27 Jul 2026 VISI | Sibuk 27 Jul 2026 Dari YouTube ke Timnas Malaysia, Mimpi Wan Kuzain Akhirnya Jadi Nyata 27 Jul 2026 Indonesia Bidik Awal Sempurna, Hadapi Kamboja di Laga Perdana ASEAN Hyundai Cup 2026 27 Jul 2026 Trailer Tabrak Dua Truk dan Motor di Pasuruan, Empat Tewas 27 Jul 2026 Fauzi Amro: DPR Siap Jalankan Fit and Proper Test Calon Gubernur BI 27 Jul 2026 Sistem Eror BPN Bandung Dikeluhkan Warga, Dinilai Buka Celah Praktik Pungli 27 Jul 2026 200 Personel Gabungan Siaga Pascabentrokan Maut di Menteng 27 Jul 2026

VISI | Bancakan

Desi Rossilawati
Jumat, 24 Juli 2026 | 08:53 WIB
Bagikan
VISI | Bancakan

Oleh: Drajat

• Guru

 

• Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung

• Wasekjen Komnasdik

• Master Hipnoterapis

• APKS PGRI Prov. Jabar

SEBENTAR lagi negeri yang kita cintai memasuki usia 81 tahun. Usia yang tidak lagi muda. Usia yang seharusnya mencerminkan kematangan sebuah bangsa. Delapan puluh satu tahun lalu, kemerdekaan tidak datang begitu saja. Ia lahir dari air mata para ibu yang melepas anaknya ke medan juang, dari darah para pejuang yang gugur tanpa sempat menikmati kemerdekaan, dari pemikiran para pendiri bangsa yang rela mempertaruhkan hidup demi sebuah cita-cita: Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.

Kemerdekaan bukan hadiah. Kemerdekaan adalah amanah. Karena itu, setiap kali bulan Agustus tiba, kita tidak hanya merayakan usia republik, tetapi juga seharusnya bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana amanah itu dijaga?

Indonesia dianugerahi kekayaan yang membuat banyak bangsa berdecak kagum. Gunung yang subur. Laut yang luas. Hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia. Mineral yang melimpah. Tanah yang menghasilkan berbagai komoditas.

Semua itu adalah karunia Allah SWT yang luar biasa. Konstitusi pun telah memberikan arah yang jelas. Kekayaan alam dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata dalam dokumen negara, melainkan kompas moral yang seharusnya menuntun setiap kebijakan. Namun sejarah juga mengajarkan bahwa kekayaan alam saja tidak cukup menjadikan sebuah bangsa besar. Yang menentukan adalah kualitas manusia yang mengelolanya.

Dalam tradisi masyarakat kita, dikenal istilah bancakan. Bancakan adalah simbol syukur. Masyarakat berkumpul. Makanan disusun bersama. Semua menikmati tanpa memandang kedudukan. Tidak ada yang merasa paling berhak. Tidak ada yang mengambil lebih dahulu. Semangatnya adalah berbagi kebahagiaan. Nilai yang lahir dari gotong royong dan rasa syukur. Sayangnya, dalam kehidupan publik, istilah itu kadang dipakai secara sinis. Bancakan berubah makna. Bukan lagi berbagi nikmat sebagai ungkapan syukur. Melainkan berbagi kekuasaan, berbagi pengaruh, berbagi keuntungan bagi kelompok sendiri. Ketika kepentingan publik bergeser menjadi kepentingan sempit, kepercayaan masyarakat perlahan terkikis.

Jabatan sesungguhnya bukan hadiah. Ia adalah titipan. Ia bukan tanda bahwa seseorang lebih mulia daripada yang lain. Ia adalah tanggung jawab yang kelak dipertanyakan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Karena itu, setiap jabatan seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula kewajibannya untuk melayani. Bukan untuk dilayani.

Sebagai guru, penulis sering mengajarkan kepada peserta didik bahwa pemimpin bukanlah orang yang paling banyak memerintah. Pemimpin adalah orang yang paling besar tanggung jawabnya. Anak-anak memahami pelajaran itu dengan sangat sederhana. Mereka tahu bahwa ketua kelas harus datang lebih awal. Harus membantu teman-temannya. Harus menjadi teladan. Ironisnya, pelajaran sederhana itu kadang terasa jauh lebih sulit dipraktikkan ketika seseorang telah dewasa.

Yang membuat hati masyarakat sering kali bukan semata-mata persoalan ekonomi. Melainkan ketika mereka merasa keadilan berjalan pincang. Ketika kepercayaan mulai terkikis. Ketika suara masyarakat terasa semakin jauh dari ruang-ruang pengambilan keputusan. Padahal demokrasi yang sehat membutuhkan dialog, kritik yang disampaikan dengan santun, serta kesediaan semua pihak untuk saling mendengar. Kritik bukan selalu tanda kebencian. Sering kali kritik lahir karena masih adanya harapan. Orang yang benar-benar tidak peduli biasanya memilih diam. Karena itu, budaya saling mendengar merupakan bagian penting dari kedewasaan sebuah bangsa.

Di tengah berbagai tantangan itu, penulis justru menemukan harapan di ruang kelas. Di sana masih ada anak-anak yang bercita-cita menjadi guru, dokter, ilmuwan, petani, insinyur, atlet, seniman, dan pemimpin. Mereka masih percaya bahwa masa depan dapat dibangun dengan kerja keras. Mereka masih bertanya dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka masih mampu tersenyum meskipun hidup sederhana. Di mata mereka, Indonesia tetaplah negeri yang layak dicintai. Harapan itulah yang harus dijaga.

Pendidikan menjadi benteng yang paling kokoh. Sekolah bukan sekadar tempat menghafal rumus. Sekolah adalah tempat membangun watak. Tempat anak-anak belajar bahwa kejujuran lebih berharga daripada keuntungan sesaat. Bahwa keberhasilan tidak boleh dicapai dengan mengorbankan integritas. Bahwa jabatan adalah amanah, bukan hak istimewa. Guru tidak memiliki kewenangan membuat undang-undang. Namun guru memiliki kesempatan membentuk cara berpikir generasi berikutnya. Dan dari ruang kelas itulah masa depan bangsa sesungguhnya sedang ditulis.

Kita tidak boleh kehilangan optimisme. Bangsa ini telah melewati begitu banyak ujian. Masa penjajahan. Krisis ekonomi. Bencana alam. Berbagai perubahan zaman. Semuanya dapat dilalui karena selalu ada orang-orang yang memilih tetap bekerja dengan jujur dan mengabdi dengan tulus. Mereka mungkin tidak selalu menjadi sorotan. Tetapi merekalah yang menjaga Indonesia tetap berdiri.

Menjelang usia ke-81 republik ini, barangkali yang paling dibutuhkan bukan hanya perayaan yang meriah. Yang lebih penting adalah perenungan. Apakah amanah telah dijalankan dengan sebaik-baiknya? Apakah kebijakan benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat luas? Apakah ruang bagi lahirnya generasi yang cerdas, jujur, dan berintegritas semakin terbuka?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak ditujukan kepada satu golongan saja. Ia adalah pertanyaan bagi kita semua. Karena bangsa dibangun bukan hanya oleh para pemimpin, melainkan juga oleh guru, orang tua, pelajar, pekerja, petani, nelayan, tenaga kesehatan, aparat, akademisi, pelaku usaha, dan seluruh warga negara.

Indonesia terlalu berharga untuk diperlakukan sebagai milik segelintir orang. Ia adalah rumah bersama. Rumah yang diwariskan oleh para pendiri bangsa dengan pengorbanan yang tidak ternilai. Rumah yang harus dijaga dengan kejujuran, kerja keras, dan rasa tanggung jawab. Marilah kita kembalikan makna bancakan kepada makna yang sesungguhnya. Bukan pesta berbagi kekuasaan. Bukan pembagian kepentingan. Melainkan syukur yang diwujudkan dalam semangat berbagi manfaat, berbagi kesempatan, dan berbagi pengabdian.

Sebab kemerdekaan bukanlah tentang siapa yang paling banyak memperoleh. Kemerdekaan adalah tentang seberapa besar kita mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan harapan bagi seluruh anak bangsa. Dan selama ruang-ruang kelas masih dipenuhi guru yang mengajarkan kejujuran, selama orang tua masih menanamkan adab kepada anak-anaknya, dan selama masih ada warga yang mencintai negeri ini dengan hati yang tulus, Indonesia akan selalu memiliki alasan untuk berharap.

Semoga pada usia ke-81 ini, bangsa kita bukan hanya bertambah tua, tetapi juga bertambah dewasa; bukan hanya semakin kuat secara lahir, tetapi juga semakin kokoh dalam menjaga amanah yang diwariskan oleh para pendiri negeri.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.