VISI | Asyik Ya Jadi Koruptor?
Oleh Drajat
SUDAH lebih dari separuh hidup penulis dihabiskan di ruang-ruang kelas, menyapa wajah-wajah muda yang cerah dengan harapan besar. Penulis telah melihat generasi demi generasi tumbuh, berubah, dan pergi menjemput nasibnya. Penulis menjadi guru karena cinta. Karena penulis percaya, pendidikan adalah jalan paling rasional dan paling strategis untuk memperbaiki nasib bangsa.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ada satu rasa yang sulit penulis abaikan. Sebuah rasa yang tak kunjung pergi, justru makin mengakar—rasa jenuh, resah, dan kecewa. Bukan karena kelelahan mengajar, bukan pula karena perkembangan teknologi atau kurikulum yang terus berubah. Tapi karena satu penyakit lama yang kini makin menjalar tanpa malu-malu: korupsi.
Ya, korupsi. Kata yang dulu kita bisikkan dengan malu, kini sudah diteriakkan dengan bangga. Dari korupsi kecil-kecilan sampai korupsi besar-besaran, dari pegawai rendah sampai pejabat tinggi, dari kantor pemerintah sampai lembaga pendidikan, semuanya seolah berlomba-lomba meraup keuntungan pribadi dari uang rakyat. Negara ini tak hanya darurat moral, tapi darurat keteladanan.
Penulis masih ingat kejadian itu, suatu pagi yang tampaknya akan biasa saja. Seperti sering penulis lakukan, penulis memancing percakapan ringan dengan siswa, “Nak, kalau kalian sudah besar nanti mau jadi apa?” Biasanya penulis mendapat jawaban normatif seperti, “Dokter, Pak!”, “Tentara!”, “Youtuber, Pak!” Tapi pagi itu, suara salah satu siswa membuat penulis tercekat: “Saya mau jadi koruptor, Pak. Uangnya banyak, hidup enak!”
Anak-anak lain tertawa. Ada yang menimpali, “Iya, Pak. Lagian koruptor juga kalau ketangkep masih bisa nyengir di TV. Nggak malu-malu!”
Penulis tahu, bisa jadi itu hanya celoteh iseng. Tapi tetap saja, dada penulis seperti dihantam palu godam. Sejauh itukah korupsi menembus kesadaran anak-anak kita? Sejauh itu kah mereka menormalisasi keburukan? Barangkali anak-anak tidak sepenuhnya salah. Mereka adalah cermin. Cermin dari apa yang mereka lihat setiap hari: berita tentang pejabat yang ditangkap KPK, kepala daerah yang ditahan, menteri yang terseret kasus suap, hingga pengelolaan dana publik yang tak transparan. Dan yang paling menyakitkan: banyak dari mereka tidak tampak menyesal.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!