VISI | Asyik Ya Jadi Koruptor?

ED
Senin, 16 Juni 2025 | 08:38 WIB
Bagikan
VISI | Asyik Ya Jadi Koruptor?

Mereka tertangkap kamera tersenyum, melambaikan tangan, dan berbaju rapi seperti mau menghadiri seminar. Hukuman pun sering tidak setimpal. Setelah beberapa tahun dipenjara (kadang di "hotel prodeo" yang nyaman), mereka bebas dan hidup mewah lagi.

Bagaimana mungkin anak-anak kita tidak menyimpulkan bahwa korupsi adalah jalan pintas menuju kemakmuran? Bahwa nilai dan moral hanya hiasan pidato? Bahwa integritas adalah dongeng usang yang tak laku?

Penulis pun harus jujur menatap kenyataan bahwa korupsi bukan hanya terjadi di gedung-gedung kementerian atau kantor bupati. Ia merasuki sekolah-sekolah kita. Mungkin tidak semua, tapi cukup banyak untuk membuat hati perih. Misalnya; guru masuk kelas terlambat, tapi tetap menandatangani daftar hadir penuh. Tugas siswa asal diberi nilai asal-asalan, cukup terlihat “jalan”.

Dana BOS digunakan tak sesuai Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS). Kegiatan yang tak pernah dilaksanakan dilaporkan sebagai "sukses dan meriah". Serta honor fiktif, kwitansi ganda, markup pengadaan—semuanya terjadi.

Bahkan di beberapa tempat, praktik pungutan liar masih dianggap "lumrah". Padahal, apa bedanya dengan korupsi yang lebih besar? Jika ketidakjujuran dibiarkan dari hal-hal kecil, maka besar kemungkinan akan tumbuh menjadi kejahatan besar di masa depan.

Penulis percaya, masih banyak guru, kepala sekolah, dan pejabat pendidikan yang jujur dan tulus bekerja. Tapi jika kita tidak bersuara, jika kita membiarkan yang salah menjadi biasa, maka kita semua telah menjadi bagian dari kebusukan itu.

Kita tidak bisa lagi menunda. Harus ada perlawanan. Dan perlawanan ini bukan hanya soal penegakan hukum, tapi soal pendidikan moral dan keteladanan. Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak rusak karena kurang cerdas, tapi karena kehilangan malu dan kehilangan arah.

Sebagai pendidik, penulis mengajak kita semua untuk kembali kepada hakikat pendidikan yang sejati: membentuk manusia berintegritas. Ini bisa dimulai dari hal-hal kecil namun bermakna: Pertama, berani jujur sekecil apa pun. Jangan beri nilai kalau tidak melihat prosesnya. Jangan tanda tangan dokumen kalau tidak benar. Jangan ajari siswa untuk “nanti saja dikerjakan, yang penting setor dulu.”

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.