VISI | Amanah Jabatan
Ada pula istilah hubris syndrome, yang menggambarkan kecenderungan seseorang yang berada dalam posisi berkuasa untuk menjadi terlalu percaya diri, sulit menerima kritik, merasa selalu benar, atau memandang rendah pendapat orang lain.
Namun, bisa jadi persoalannya bukan semata-mata jabatan yang mengubah karakter seseorang.
Jabatan justru dapat membuka karakter yang selama ini tersembunyi.
Ketika seseorang belum memiliki kekuasaan, ia mungkin terlihat ramah, rendah hati, mudah berkomunikasi, dan terbuka terhadap kritik. Tetapi setelah memperoleh jabatan, perilakunya berubah. Ia mulai sulit ditemui, tidak mau menerima masukan, mudah tersinggung ketika dikritik, bahkan menganggap orang lain tidak memiliki kapasitas untuk memberikan pendapat.
Dalam konteks inilah ungkapan yang sering dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln, menjadi relevan: "Bila kau ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan."
Kekuasaan memang menjadi salah satu ujian karakter.
Seseorang yang rendah hati sebelum memiliki jabatan seharusnya semakin rendah hati ketika mendapatkan jabatan. Seseorang yang terbiasa mendengar seharusnya semakin banyak mendengar ketika menjadi pemimpin. Seseorang yang dahulu memahami kesulitan bawahannya seharusnya semakin peka setelah memiliki kewenangan untuk memperbaiki keadaan.
Sebaliknya, jika jabatan membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain, enggan menerima kritik, dan menggunakan kewenangan untuk kepentingan pribadi, maka jabatan tersebut telah berubah dari amanah menjadi jebakan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!