VISI | Amanah Jabatan
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pesan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar hak untuk memerintah, tetapi kewajiban untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan terhadap mereka yang dipimpin.
Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin panjang pula daftar tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.
Karena itu, tidak semestinya seseorang menjadi sombong hanya karena memperoleh jabatan. Jabatan pada hakikatnya bukan semata-mata hasil kehebatan pribadi. Dalam keyakinan Islam, kekuasaan dan kedudukan berada dalam kehendak Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran ayat 26 yang pada intinya menegaskan bahwa Allah adalah pemilik kekuasaan. Dia memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki. Dia memuliakan siapa yang dikehendaki dan merendahkan siapa yang dikehendaki.
Ayat tersebut mengandung pelajaran penting bahwa tidak ada jabatan yang bersifat abadi.
Hari ini seseorang berada di atas, memiliki kewenangan dan dihormati banyak orang. Namun, pada waktunya jabatan itu akan berakhir. Kursi yang sama akan ditempati orang lain. Tanda tangan yang dahulu menentukan banyak keputusan akan berpindah kepada tangan berikutnya.
Karena itu, jangan sampai jabatan membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.
Ada fenomena yang menarik dalam dunia psikologi ketika seseorang mendapatkan kekuasaan. Jabatan dan kekuasaan dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Istilah seperti power trip kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlena oleh kekuasaan yang dimilikinya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!