VISI | Amanah Jabatan

ED
PN
Jumat, 4 September 2026 | 11:31 WIB
Bagikan
VISI | Amanah Jabatan

Oleh Idat Mustari

JABATAN, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah pekerjaan atau tugas dalam pemerintahan maupun organisasi. Jabatan biasanya mencerminkan hierarki dalam sebuah struktur organisasi sekaligus menentukan wewenang, tanggung jawab, dan tugas yang harus dijalankan oleh seseorang.

Dalam praktiknya, jabatan memiliki banyak varian. Di dunia korporasi terdapat posisi direktur, manajer, hingga kepala cabang. Dalam pemerintahan dan birokrasi dikenal istilah kepala dinas, kepala badan, direktur jenderal, dan berbagai posisi lainnya. Sementara dalam organisasi, posisi pimpinan dapat disebut ketua umum, sekretaris jenderal, ketua wilayah, maupun ketua di tingkat provinsi, kota, dan kabupaten.

Namun, di balik beragam nama dan tingkatan tersebut, ada satu hal yang sering kali terlupakan: jabatan bukan sekadar posisi, melainkan mandat.

Dalam dunia profesional, jabatan kerap menjadi magnet yang menarik perhatian. Banyak orang berlomba untuk mendapatkannya karena jabatan dianggap mampu memberikan status sosial lebih tinggi, fasilitas lebih baik, kewenangan lebih besar, hingga peningkatan pendapatan.

Semakin tinggi jabatan seseorang, biasanya semakin besar pula fasilitas dan kewenangan yang melekat padanya. Ruang kerja yang lebih luas, kendaraan dinas, fasilitas perjalanan, akses terhadap pengambilan keputusan, hingga penghormatan dari orang lain sering kali menjadi bagian dari konsekuensi sebuah jabatan.

Tidak ada yang salah dengan penghargaan terhadap seseorang yang berhasil mencapai posisi tinggi. Persoalannya muncul ketika fasilitas dan kekuasaan tersebut justru membuat seseorang lupa terhadap alasan utama mengapa dirinya diberi jabatan.

Sebab, jabatan pada hakikatnya bukanlah hadiah. Jabatan adalah kepercayaan.

Ketika seseorang dipercaya menduduki posisi baru, terutama posisi manajerial atau eksekutif, organisasi sesungguhnya sedang menitipkan dua hal penting, yaitu kepercayaan dan tanggung jawab.

Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang dalam jabatan semestinya tidak hanya dilihat dari seberapa besar kewenangan yang dimiliki atau seberapa banyak fasilitas yang diperoleh. Ukuran yang jauh lebih penting adalah seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada organisasi dan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya.

Semakin tinggi jabatan, semestinya semakin besar pula tanggung jawabnya.

Seorang pemimpin tidak seharusnya hanya berpikir bagaimana kehidupannya menjadi lebih sejahtera karena jabatan yang dimiliki. Ia juga harus berpikir bagaimana membuat orang-orang yang dipimpinnya tumbuh, berkembang, merasa dihargai, dan memperoleh kesejahteraan.

Di situlah kualitas seorang pemimpin sebenarnya diuji.

Pemimpin yang baik tidak menjadikan jabatan sebagai alat untuk menjaga jarak dengan bawahannya. Sebaliknya, jabatan seharusnya menjadi sarana untuk semakin dekat dengan persoalan orang-orang yang dipimpinnya.

Seorang pimpinan yang hanya menikmati fasilitas jabatan tetapi tidak memahami kesulitan bawahannya pada dasarnya sedang menikmati sisi fasilitas dari jabatan tanpa menjalankan sisi amanahnya.

Dalam perspektif Islam, jabatan merupakan amanah. Amanah tersebut tidak hanya memiliki dimensi horizontal dalam kehidupan sosial dan pekerjaan, tetapi juga memiliki dimensi vertikal berupa pertanggungjawaban kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Pesan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar hak untuk memerintah, tetapi kewajiban untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan terhadap mereka yang dipimpin.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin panjang pula daftar tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

Karena itu, tidak semestinya seseorang menjadi sombong hanya karena memperoleh jabatan. Jabatan pada hakikatnya bukan semata-mata hasil kehebatan pribadi. Dalam keyakinan Islam, kekuasaan dan kedudukan berada dalam kehendak Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran ayat 26 yang pada intinya menegaskan bahwa Allah adalah pemilik kekuasaan. Dia memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki. Dia memuliakan siapa yang dikehendaki dan merendahkan siapa yang dikehendaki.

Ayat tersebut mengandung pelajaran penting bahwa tidak ada jabatan yang bersifat abadi.

Hari ini seseorang berada di atas, memiliki kewenangan dan dihormati banyak orang. Namun, pada waktunya jabatan itu akan berakhir. Kursi yang sama akan ditempati orang lain. Tanda tangan yang dahulu menentukan banyak keputusan akan berpindah kepada tangan berikutnya.

Karena itu, jangan sampai jabatan membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.

Ada fenomena yang menarik dalam dunia psikologi ketika seseorang mendapatkan kekuasaan. Jabatan dan kekuasaan dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Istilah seperti power trip kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlena oleh kekuasaan yang dimilikinya.

Ada pula istilah hubris syndrome, yang menggambarkan kecenderungan seseorang yang berada dalam posisi berkuasa untuk menjadi terlalu percaya diri, sulit menerima kritik, merasa selalu benar, atau memandang rendah pendapat orang lain.

Namun, bisa jadi persoalannya bukan semata-mata jabatan yang mengubah karakter seseorang.

Jabatan justru dapat membuka karakter yang selama ini tersembunyi.

Ketika seseorang belum memiliki kekuasaan, ia mungkin terlihat ramah, rendah hati, mudah berkomunikasi, dan terbuka terhadap kritik. Tetapi setelah memperoleh jabatan, perilakunya berubah. Ia mulai sulit ditemui, tidak mau menerima masukan, mudah tersinggung ketika dikritik, bahkan menganggap orang lain tidak memiliki kapasitas untuk memberikan pendapat.

Dalam konteks inilah ungkapan yang sering dikaitkan dengan Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln, menjadi relevan: "Bila kau ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan."

Kekuasaan memang menjadi salah satu ujian karakter.

Seseorang yang rendah hati sebelum memiliki jabatan seharusnya semakin rendah hati ketika mendapatkan jabatan. Seseorang yang terbiasa mendengar seharusnya semakin banyak mendengar ketika menjadi pemimpin. Seseorang yang dahulu memahami kesulitan bawahannya seharusnya semakin peka setelah memiliki kewenangan untuk memperbaiki keadaan.

Sebaliknya, jika jabatan membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain, enggan menerima kritik, dan menggunakan kewenangan untuk kepentingan pribadi, maka jabatan tersebut telah berubah dari amanah menjadi jebakan.

Jebakan terbesar dalam sebuah jabatan bukan kehilangan posisi. Jebakan terbesar adalah ketika seseorang terlalu mencintai posisinya hingga lupa bahwa posisi tersebut hanya sementara.

Jabatan dapat membuat seseorang dikenal. Jabatan dapat membuat seseorang dihormati. Jabatan dapat memberikan fasilitas dan kekuasaan. Tetapi semua itu akan berakhir ketika masa jabatan selesai.

Yang tersisa kemudian adalah rekam jejak.

Orang mungkin lupa siapa yang pernah duduk di sebuah kursi jabatan. Orang mungkin lupa berapa lama seseorang menjabat. Bahkan fasilitas yang pernah dinikmati pun tidak akan menjadi bagian dari kehidupan selamanya.

Namun, kontribusi positif akan lebih lama tinggal dalam ingatan.

Orang akan mengenang pemimpin yang pernah membantu mereka tumbuh. Mereka akan mengingat atasan yang pernah membela ketika berada dalam kesulitan. Mereka akan mengingat pemimpin yang mau mendengar ketika yang lain memilih mengabaikan. Mereka juga akan mengingat seseorang yang menggunakan kekuasaannya untuk memberikan manfaat, bukan sekadar menikmati keistimewaan.

Karena itu, bagi siapa pun yang mendapatkan jabatan, barangkali ada satu pertanyaan sederhana yang perlu terus dibawa dalam setiap langkah: setelah jabatan ini selesai, apa yang akan saya tinggalkan?

Bukan berapa banyak fasilitas yang pernah dinikmati. Bukan berapa banyak orang yang pernah tunduk pada perintah. Bukan pula seberapa tinggi posisi yang pernah diduduki.

Melainkan seberapa banyak kebaikan yang pernah diberikan.

Sebab jabatan pasti sementara. Kekuasaan pasti berganti. Kursi kepemimpinan pasti berpindah.

Tetapi karya, keteladanan, kontribusi, dan inspirasi yang bermakna dapat terus hidup jauh setelah seseorang meninggalkan jabatannya.

Maka, ketika mendapatkan jabatan, jangan bertanya terlebih dahulu apa yang bisa diberikan jabatan kepada kita.

Tanyakanlah apa yang bisa kita berikan melalui jabatan tersebut kepada orang lain.

Jabatan bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling bertanggung jawab.

Wallahu'alam.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.