VISI | Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pedagang Kain yang Dermawan Luar Biasa

ED
Rabu, 4 Maret 2026 | 06:29 WIB
Bagikan
VISI | Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pedagang Kain yang Dermawan Luar Biasa

Pemimpin Pesantren Ma'had Imam Syafi'i, Sofyan Chalid Ruray mengatakan, "Dengan menjadi pengusaha maka lulusan pesantren akan lebih banyak punya waktu untuk berdakwah, dibandingkan jika jadi karyawan. Bagaimanapun, tugas utama mereka adalah berdakwah. Dengan memiliki penghasilan dari bisnis sendiri maka mereka akan lebih mandiri dan memiliki waktu yang cukup banyak untuk berdakwah."

Yang terpenting, usaha harus diniatkan sebagai sarana ibadah dan dakwah, bukan hanya untuk mencari keuntungan semata. Pengusaha pesantren harus menjaga kualitas, amanah, dan keberkahan dalam setiap produk atau jasa yang ditawarkan, serta memberikan manfaat dan kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, dan umat Islam secara keseluruhan.

Pesantren Sidogiri adalah contoh nyata. Sejak mendirikan Kopontren pada 1961, mereka menerapkan prinsip tabligh (transparansi) dan fathanah (profesional) dalam pengelolaan koperasi syariah, serta membudayakan nilai shiddiq (kejujuran) dan amanah (dapat dipercaya) bagi para pengelola. Hasilnya, mereka tidak hanya mandiri secara finansial, bahkan menolak bantuan pemerintah, tetapi juga mampu menyerap 1.300 tenaga kerja dan terus memperluas dakwah serta pemberdayaan masyarakat.

Pesantren Daarut Tauhid juga menjalankan prinsip serupa. Dana dari bisnis mereka digunakan pula untuk menyubsidi santri-santri lain yang tidak mampu. Orang tua ikhlas mengeluarkan biaya mahal lantaran tahu dana tersebut digunakan untuk kebaikan bersama, bukan untuk kantong pribadi pengasuh.

Ini adalah aplikasi modern dari prinsip Abu Bakar: berbisnis dengan sukses, tetapi profit tidak untuk ditimbun atau dinikmati sendiri, melainkan disalurkan untuk dakwah, pendidikan, dan kesejahteraan umat.

Pelajaran: Rezeki adalah Amanah, Bukan untuk Ditimbun

Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengajarkan kita beberapa pelajaran berharga tentang harta dan kedermawanan:

1. Harta adalah Amanah, Bukan Kepemilikan Mutlak Abu Bakar tidak pernah merasa bahwa 40.000 dirhamnya adalah miliknya secara mutlak. Ia sadar bahwa semua itu adalah amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan. Ketika ditanya, "Apakah diri saya dan harta saya menjadi milik selain engkau (ya Rasulullah)?" ia menunjukkan bahwa dirinya dan hartanya adalah untuk Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk dirinya sendiri.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.