VISI | Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pedagang Kain yang Dermawan Luar Biasa

ED
Rabu, 4 Maret 2026 | 06:29 WIB
Bagikan
VISI | Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pedagang Kain yang Dermawan Luar Biasa

Kesuksesan Abu Bakar dalam bisnis bukan tanpa alasan. Ia dikenal sangat jujur dalam berdagang—tidak pernah mengurangi timbangan, tidak menyembunyikan cacat barang, dan selalu menepati janji. Kepribadian dan akhlaknya yang mulia membuat orang sangat menyenanginya. Di zaman Jahiliyah, Abu Bakar tidak pernah minum khamr meski itu adalah minuman kebanggaan pada masa itu, dan tidak pernah menyembah berhala. Ia adalah sosok yang terhormat dan dipercaya, bahkan sebelum Islam datang.

Karena kejujuran dan akhlaknya yang mulia, Abu Bakar menjadi pedagang yang sangat kaya raya. Ia sering bepergian kesana kemari, sehingga orang-orang mengenalnya. Orang-orang kenal Abu Bakar, ia sering pergi ke negeri Syam, ke negeri Yaman untuk berdagang. Sehingga ia mengenal banyak orang dan sering bergaul dengan mereka dengan akhlak yang mulia.

Ketika Abu Bakar masuk Islam, ia mempunyai uang sebanyak 40.000 dirham. Kekayaannya mencapai 40 ribu dirham, setara dengan 94 miliar rupiah saat itu. Namun kehidupan Abu Bakar yang dilimpahi harta tersebut tidak menjadikannya sombong. Ia justru memberikan hartanya untuk memajukan Islam. Dengan hidup sebagai pedagang kaya, ia tetap memperhatikan kesejahteraan umat Islam.

Sedekahkan Semua Hartanya untuk Hijrah dan Perang

Kedermawanan Abu Bakar bukan main-main. Ia tidak sekadar memberi dari sisa hartanya, tetapi dari inti kekayaannya. Bahkan dalam dua peristiwa besar, ia menyedekahkan semua hartanya tanpa tersisa.

Periode Awal Islam: Membebaskan Budak yang Disiksa

Di awal keislamannya, Abu Bakar menginfakkan di jalan Allah apa yang dimilikinya sebanyak 40.000 dirham. Ia banyak memerdekakan budak-budak yang disiksa karena keislamannya di jalan Allah. Salah seorang budak yang dibelinya lalu dibebaskan adalah Bilal bin Rabah dengan membayar 5 uqyah emas (sekitar 285 gram emas atau setara 114 juta rupiah) kepada Umayyah bin Khalaf—harga yang sangat mahal pada masa itu.

Ayahnya, Abu Quhafah, berkata kepadanya, "Jika kamu ingin memerdekakan hamba sahaya, merdekakanlah hamba sahaya yang kuat-kuat, karena dia akan bisa membantumu dan bisa berguna bagi kita." Namun Abu Bakar tidak peduli. Baginya, yang penting adalah menolong saudara sesama Muslim yang disiksa, bukan mencari keuntungan pribadi.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.