VISI | Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pedagang Kain yang Dermawan Luar Biasa

ED
Rabu, 4 Maret 2026 | 06:29 WIB
Bagikan
VISI | Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pedagang Kain yang Dermawan Luar Biasa

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa setelah mendengar sabda Rasulullah tersebut, Abu Bakar Shiddiq menangis dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah diri saya dan harta saya menjadi milik selain engkau?"

Prinsip: Sukses Dunia untuk Bekal Akhirat

Apa yang membuat Abu Bakar begitu berani menyedekahkan SEMUA hartanya? Jawabannya ada pada prinsip hidup yang ia pegang: sukses dunia adalah untuk bekal akhirat. Harta adalah sarana, bukan tujuan. Kekayaan adalah amanah Allah yang harus digunakan untuk kebaikan, bukan ditimbun untuk kemewahan pribadi.

Para ulama sepakat bahwa turunnya wahyu Surah Al-Lail ayat 17-21 berkenaan dengan Abu Bakar Shiddiq: "Dan kelak akan dijauhkan (dari api neraka) orang yang paling takwa. Yang menginfakkan hartanya untuk membersihkan diri. Padahal tidak ada seorang pun yang memberikan kepadanya suatu nikmat (karunia) yang harus dibalasnya, kecuali karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar akan mendapat kepuasan." (QS. Al-Lail: 17-21)

Abu Bakar memahami dengan sangat mendalam hadis Rasulullah SAW, "Demi Allah, dunia dibandingkan akhirat hanyalah seperti salah seorang di antara kalian yang mencelupkan jarinya ke laut, lalu lihatlah apa yang kembali padanya." Artinya, dunia yang kita kejar sekeras apapun hanya setetes air di ujung jari dibanding samudera akhirat yang kekal.

Dengan pemahaman ini, Abu Bakar tidak takut miskin ketika menyedekahkan semua hartanya. Ia yakin bahwa Allah SWT akan mengganti dengan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kenyataannya, meski Abu Bakar menyedekahkan semua hartanya berkali-kali, Allah selalu memberikan gantinya. Ia tidak pernah jatuh miskin, bahkan terus diberi rezeki yang cukup hingga akhir hayatnya.

Aplikasi Modern: Pengusaha Pesantren yang Sebagian Profit untuk Dakwah

Prinsip Abu Bakar—sukses dunia untuk bekal akhirat—kini dipraktikkan oleh banyak pengusaha pesantren di Indonesia. Mereka menjalankan bisnis bukan semata untuk mengumpulkan kekayaan, tetapi untuk mendukung dakwah dan kesejahteraan umat.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.