Menyusuri Jejak Anjuk Ladang, Menemukan Ruh Sejarah Kabupaten Nganjuk
VISI.NEWS – Hamparan sawah yang luas, hembusan angin yang menyejukkan, serta jejak peradaban kuno yang masih tersimpan hingga kini menjadikan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sebagai salah satu daerah yang kaya akan sejarah. Saat melakukan perjalanan dalam agenda "Gowes Sejarah" belum lama ini, pegiat sejarah Edi Sudjono mengungkapkan bahwa Nganjuk bukan sekadar daerah persinggahan di jalur tengah Pulau Jawa, melainkan sebuah wilayah yang memiliki akar sejarah panjang sejak lebih dari seribu tahun silam.
“Banyak orang mengenal Nganjuk sebagai kota angin atau jalur penghubung antardaerah di Jawa Timur. Padahal, daerah ini memiliki warisan sejarah luar biasa yang menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia,” ujar Edi Sudjono.
Menurutnya, memahami sejarah Nganjuk berarti menelusuri jejak lahirnya sebuah wilayah yang dahulu dikenal dengan nama Anjuk Ladang, sebuah nama yang tercatat dalam prasasti kuno peninggalan Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-10. Nama tersebut kemudian berkembang menjadi Nganjuk yang dikenal saat ini.
Dari Anjuk Ladang Menjadi Nganjuk
Sejarah Kabupaten Nganjuk tidak dapat dilepaskan dari Prasasti Anjuk Ladang, yang dibuat pada masa pemerintahan Raja Mpu Sindok sekitar tahun 937 Masehi atau 859 Saka. Prasasti tersebut ditemukan di kawasan Candi Lor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, dan menjadi bukti tertulis tertua mengenai asal-usul wilayah Nganjuk.
Dalam prasasti itu disebutkan bahwa masyarakat Anjuk Ladang telah berjasa membantu pasukan Raja Mpu Sindok menghalau serangan musuh dari arah barat yang diduga berkaitan dengan kekuatan Melayu atau Sriwijaya. Sebagai penghargaan atas jasa tersebut, wilayah Anjuk Ladang ditetapkan sebagai desa swatantra atau sima, yakni daerah yang memperoleh hak istimewa dan pembebasan pajak.
“Dari sini kita bisa melihat bahwa sejarah Nganjuk lahir dari semangat perjuangan rakyat. Bukan hanya sejarah kerajaan, tetapi juga sejarah keterlibatan masyarakat dalam mempertahankan wilayahnya,” kata Edi Sudjono.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!