Menyusuri Jejak Anjuk Ladang, Menemukan Ruh Sejarah Kabupaten Nganjuk

ED
Senin, 24 Agustus 2026 | 19:12 WIB
Bagikan
/

VISI.NEWS – Hamparan sawah yang luas, hembusan angin yang menyejukkan, serta jejak peradaban kuno yang masih tersimpan hingga kini menjadikan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sebagai salah satu daerah yang kaya akan sejarah. Saat melakukan perjalanan dalam agenda "Gowes Sejarah" belum lama ini, pegiat sejarah Edi Sudjono mengungkapkan bahwa Nganjuk bukan sekadar daerah persinggahan di jalur tengah Pulau Jawa, melainkan sebuah wilayah yang memiliki akar sejarah panjang sejak lebih dari seribu tahun silam.

“Banyak orang mengenal Nganjuk sebagai kota angin atau jalur penghubung antardaerah di Jawa Timur. Padahal, daerah ini memiliki warisan sejarah luar biasa yang menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia,” ujar Edi Sudjono.

Menurutnya, memahami sejarah Nganjuk berarti menelusuri jejak lahirnya sebuah wilayah yang dahulu dikenal dengan nama Anjuk Ladang, sebuah nama yang tercatat dalam prasasti kuno peninggalan Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-10. Nama tersebut kemudian berkembang menjadi Nganjuk yang dikenal saat ini.

Dari Anjuk Ladang Menjadi Nganjuk

Sejarah Kabupaten Nganjuk tidak dapat dilepaskan dari Prasasti Anjuk Ladang, yang dibuat pada masa pemerintahan Raja Mpu Sindok sekitar tahun 937 Masehi atau 859 Saka. Prasasti tersebut ditemukan di kawasan Candi Lor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, dan menjadi bukti tertulis tertua mengenai asal-usul wilayah Nganjuk.

Dalam prasasti itu disebutkan bahwa masyarakat Anjuk Ladang telah berjasa membantu pasukan Raja Mpu Sindok menghalau serangan musuh dari arah barat yang diduga berkaitan dengan kekuatan Melayu atau Sriwijaya. Sebagai penghargaan atas jasa tersebut, wilayah Anjuk Ladang ditetapkan sebagai desa swatantra atau sima, yakni daerah yang memperoleh hak istimewa dan pembebasan pajak.

“Dari sini kita bisa melihat bahwa sejarah Nganjuk lahir dari semangat perjuangan rakyat. Bukan hanya sejarah kerajaan, tetapi juga sejarah keterlibatan masyarakat dalam mempertahankan wilayahnya,” kata Edi Sudjono.

Para ahli sejarah menafsirkan kata Anjuk sebagai “tinggi” atau “kemenangan yang gemilang”, sedangkan Ladang berarti tanah atau daratan. Karena itu, Anjuk Ladang sering dimaknai sebagai ‘Tanah Kemenangan’, sebuah filosofi yang hingga kini masih melekat dalam identitas Kabupaten Nganjuk.

Candi Lor, Saksi Bisu Kelahiran Nganjuk

Dalam perjalanan Gowes Sejarah, salah satu lokasi yang menarik perhatian adalah Candi Lor, situs bersejarah yang diyakini menjadi simbol lahirnya Kabupaten Nganjuk. Candi berbahan bata merah tersebut didirikan pada masa Mpu Sindok sebagai penanda kemenangan sekaligus penghormatan kepada masyarakat Anjuk Ladang.

Meski kondisinya kini tidak lagi utuh, Candi Lor tetap menjadi situs penting yang menyimpan nilai sejarah tinggi. Di kawasan inilah dahulu ditemukan Prasasti Anjuk Ladang yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta untuk kepentingan pelestarian dan penelitian.

“Ketika berdiri di Candi Lor, kita seperti diajak menembus waktu. Di tempat inilah sejarah Nganjuk bermula, dan dari sini kita bisa memahami bagaimana sebuah daerah lahir dari perjuangan, penghargaan, serta peradaban yang maju pada masanya,” tutur Edi.

Jejak Mpu Sindok di Tanah Nganjuk

Sejarah Nganjuk juga erat kaitannya dengan Raja Mpu Sindok, pendiri Wangsa Isyana dan tokoh penting dalam sejarah Jawa Timur. Setelah memindahkan pusat Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, Mpu Sindok membangun berbagai pusat pemerintahan dan keagamaan yang memperkuat peradaban di kawasan timur Pulau Jawa.

Dalam konteks itu, Anjuk Ladang menjadi wilayah strategis yang memiliki arti penting secara militer maupun administratif. Penetapan daerah tersebut sebagai wilayah sima menunjukkan tingginya penghargaan kerajaan terhadap kontribusi masyarakat setempat.

Dari Berbek ke Kabupaten Nganjuk

Memasuki masa kolonial, wilayah yang kini menjadi Kabupaten Nganjuk pernah dikenal sebagai Kabupaten Berbek. Seiring perkembangan pemerintahan dan pertimbangan strategis, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke Nganjuk. Pada awal abad ke-20, nama Kabupaten Berbek resmi berubah menjadi Kabupaten Nganjuk dan berlaku efektif sejak 1 Januari 1929.

Perubahan tersebut menandai babak baru perjalanan daerah yang terus berkembang hingga menjadi salah satu kabupaten penting di Jawa Timur.

Bagi Edi Sudjono, perjalanan Gowes Sejarah bukan sekadar aktivitas olahraga, melainkan cara untuk menyapa kembali jejak peradaban yang membentuk identitas bangsa.

“Setiap daerah memiliki cerita. Ketika kita mengayuh sepeda dan berhenti di situs-situs sejarah seperti di Nganjuk, kita belajar bahwa kemajuan hari ini tidak lahir begitu saja. Ada perjuangan, pengorbanan, dan kebijaksanaan para pendahulu yang menjadi fondasinya,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda semakin mengenal sejarah daerahnya sendiri, karena dari sejarah itulah lahir rasa memiliki, kebanggaan, dan tanggung jawab untuk menjaga warisan budaya bangsa.

Kabupaten Nganjuk hari ini mungkin dikenal sebagai daerah agraris dan jalur strategis di Jawa Timur. Namun di balik itu, tersimpan kisah besar tentang Anjuk Ladang, tanah kemenangan yang telah berdiri lebih dari seribu tahun, menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Nusantara.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.