Tukang Becak Kamiseng Naik Haji dari Celengan
Kamiseng dan istri, calon jemaah haji yang berprofesi sebagai seorang tukang becak asal Mamuju, Sulbar, Selasa (28/4/2026)./visi.news/ist.
VISI.NEWS | MAKASSAR - Di balik hiruk pikuk jalanan Mamuju, Sulawesi Barat, ada kisah haru dari seorang tukang becak bernama Kamiseng (46) yang akhirnya mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji bersama istrinya, Risnawati (40). Pasangan ini tergabung sebagai jemaah calon haji Embarkasi Makassar kloter 12 untuk musim haji 2026.
Profesi Kamiseng sebagai penarik becak menjadi sumber utama penghidupan keluarga kecilnya. Setiap hari, sejak pagi buta, ia berkeliling mencari penumpang di jalanan kota. Dari hasil kerja kerasnya, ia memperoleh penghasilan sekitar Rp 50.000 hingga Rp 90.000 per hari, yang kemudian diatur untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus tabungan masa depan.
Sebagian penghasilan tersebut dikelola oleh sang istri untuk biaya anak sekolah dan kebutuhan pokok, sementara sisanya secara perlahan disisihkan ke dalam tabungan sederhana di rumah.
"Saya simpan di rumah, pakai celengan, Rp 2.000-5.000 kalau cukupmi beli beras baru disimpanmi, yang ditabung apa yang didapat," ujar Kamiseng dalam keterangannya dikutip, Kamis (30/4/2026).
Kebiasaan menabung itu sudah dimulai sejak awal tahun 2000. Tekad untuk berangkat haji semakin kuat setelah ia dan istrinya mendaftar pada tahun 2013. Sejak saat itu, Kamiseng semakin giat menyisihkan penghasilan kecilnya demi mewujudkan impian ke Tanah Suci.
Meski penghasilan tidak besar, Kamiseng tetap konsisten menjalani hidup sederhana. Ia dan istrinya bahkan menanam sayuran di pekarangan rumah seperti daun ubi dan kelor untuk kebutuhan makan sehari hari, sehingga pengeluaran dapat ditekan seminimal mungkin.
"Kami menanam daun ubi, kelor, tanam sayur, itu yang dimakan, beras saja dibeli," ujarnya.
Perjalanan hidup Kamiseng juga penuh perjuangan. Ia pernah merantau dari Bantaeng ke Pangkep, Sulawesi Selatan, sebelum akhirnya menetap di Mamuju. Perpindahan itu dilakukan karena perubahan kondisi ekonomi, termasuk menurunnya pendapatan akibat banyaknya kendaraan bentor yang menggantikan becak tradisional.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!