SKETSA | Rhoma Irama
Oleh Syakieb Sungkar
SAYA orang kampung. Sejak lahir sampai besar tinggal di sebuah kampung di tengah-tengah kota Jakarta. Karena sebuah kota pada awalnya adalah sebuah kampung yang berkembang. Ia tumbuh karena banyaknya pendatang urban dari luar kota yang tinggal di sana. Sehingga ada interaksi budaya antara tradisi lokal dengan pendatang yang memperkaya wawasan. Namun migrasi juga mendatangkan kerusakan. Setidaknya tanah-tanah kosong dan rawa di masa saya kecil yang berisi tanaman dan binatang liar menjadi hilang, digantikan dengan bangunan beton. Namun jarang sekali orang melihat urbanisasi memberikan sumbangan pada pertumbuhan ekonomi. Hanya sedikit negara yang mau mengurusi pergeseran struktur dari masyarakat yang penghasilannya berbasis rural seperti bertani dan memelihara ikan menjadi masyarakat yang pekerjaannya menjadi lebih produktif, dengan meningkatkan kelas sosialnya sehingga mempunyai pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, serta mendapatkan pekerjaan yang bergaji tinggi.
Timbul pertanyaan, apakah sebuah kota dapat memainkan fungsinya untuk meningkatkan kemanusiaan. Terlihat hubungan kekerabatan dan pertemanan menjadi renggang setelah sebuah kampung berkembang menjadi kota. Tetapi ada dimensi yang lebih optimis dari kota sebagai tempat yang mewujudkan kebebasan individu, kreativitas kolektif, dan produktivitas tinggi, karena saat ini lebih banyak penduduk yang lahir di kota daripada di desa terpencil. Namun kota akan terus tumbuh menghidupi banyak orang, yang kadang berbuat kejam mengusir penduduk asli demi pembangun ribuan perumahan kaum pendatang. Dengan itu kota memberi kita pekerjaan dan pelayanan. Selain itu, pertumbuhan akan menimbulkan sampah yang besarannya melebihi kapasitas alam untuk menampungnya. Kota juga memunculkan ketimpangan – ada sebagian orang yang menikmati kesejahteraan secara berlebihan dan cepat, yang disebabkan oleh campur tangan kapitalisme dan manajemen kota yang lemah. Hal itu tercermin dengan berdirinya perumahan mewah, jalan tol eksklusif untuk mobil pribadi – di mana orang miskin tidak mampu untuk menikmatinya. Sementara yang miskin hidup dalam lingkungan buruk dan harus menempuh jarak yang jauh ke tempat pekerjaan. Setidaknya itulah yang ditulis oleh David Simon dalam bukunya “Rethinking Sustainable Cities”, 6 tahun yang lalu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!