Heboh Penarikan 40 Merek Beras, Bos Bulog Sidak Ritel Modern, Ini Hasilnya 6 Aug 2026 Cegah Keracunan MBG, SPPG Tanpa SLHS Terancam Ditutup Permanen 6 Aug 2026 Polisi Tetapkan Saepullah Tersangka Kasus Mutilasi di Depok 6 Aug 2026 BPS: Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia 2026 Capai 83,28 poin 6 Aug 2026 Jadwal Persija vs Arema FC, Perebutan Juara Tiga Piala Presiden 2026 6 Aug 2026 Riset DIR: Trust Publik Menguat, Modal Baru Benahi MBG 6 Aug 2026 Preview Persib vs Persebaya: Buru Trofi Pembuka Era Baru 6 Aug 2026 KDMP Nagrak Jalin Kerja Sama dengan BPJS Ketenagakerjaan, Bupati Bandung Beri Apresiasi 6 Aug 2026 Truk Batu Bara Tabrak Lima Kendaraan di Ciwidey 6 Aug 2026 Dokter RSUD Ruteng Minta Maaf Usai Komentar soal Pasien BPJS Viral 6 Aug 2026 Heboh Penarikan 40 Merek Beras, Bos Bulog Sidak Ritel Modern, Ini Hasilnya 6 Aug 2026 Cegah Keracunan MBG, SPPG Tanpa SLHS Terancam Ditutup Permanen 6 Aug 2026 Polisi Tetapkan Saepullah Tersangka Kasus Mutilasi di Depok 6 Aug 2026 BPS: Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia 2026 Capai 83,28 poin 6 Aug 2026 Jadwal Persija vs Arema FC, Perebutan Juara Tiga Piala Presiden 2026 6 Aug 2026 Riset DIR: Trust Publik Menguat, Modal Baru Benahi MBG 6 Aug 2026 Preview Persib vs Persebaya: Buru Trofi Pembuka Era Baru 6 Aug 2026 KDMP Nagrak Jalin Kerja Sama dengan BPJS Ketenagakerjaan, Bupati Bandung Beri Apresiasi 6 Aug 2026 Truk Batu Bara Tabrak Lima Kendaraan di Ciwidey 6 Aug 2026 Dokter RSUD Ruteng Minta Maaf Usai Komentar soal Pasien BPJS Viral 6 Aug 2026

SKETSA | Rhoma Irama

ED
Rabu, 7 September 2022 | 06:30 WIB
Bagikan
SKETSA | Rhoma Irama

Oleh Syakieb Sungkar

SAYA orang kampung. Sejak lahir sampai besar tinggal di sebuah kampung di tengah-tengah kota Jakarta. Karena sebuah kota pada awalnya adalah sebuah kampung yang berkembang. Ia tumbuh karena banyaknya pendatang urban dari luar kota yang tinggal di sana. Sehingga ada interaksi budaya antara tradisi lokal dengan pendatang yang memperkaya wawasan. Namun migrasi juga mendatangkan kerusakan. Setidaknya tanah-tanah kosong dan rawa di masa saya kecil yang berisi tanaman dan binatang liar menjadi hilang, digantikan dengan bangunan beton. Namun jarang sekali orang melihat urbanisasi memberikan sumbangan pada pertumbuhan ekonomi. Hanya sedikit negara yang mau mengurusi pergeseran struktur dari masyarakat yang penghasilannya berbasis rural seperti bertani dan memelihara ikan menjadi masyarakat yang pekerjaannya menjadi lebih produktif, dengan meningkatkan kelas sosialnya sehingga mempunyai pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, serta mendapatkan pekerjaan yang bergaji tinggi.

Timbul pertanyaan, apakah sebuah kota dapat memainkan fungsinya untuk meningkatkan kemanusiaan. Terlihat hubungan kekerabatan dan pertemanan menjadi renggang setelah sebuah kampung berkembang menjadi kota. Tetapi ada dimensi yang lebih optimis dari kota sebagai tempat yang mewujudkan kebebasan individu, kreativitas kolektif, dan produktivitas tinggi, karena saat ini lebih banyak penduduk yang lahir di kota daripada di desa terpencil. Namun kota akan terus tumbuh menghidupi banyak orang, yang kadang berbuat kejam mengusir penduduk asli demi pembangun ribuan perumahan kaum pendatang. Dengan itu kota memberi kita pekerjaan dan pelayanan. Selain itu, pertumbuhan akan menimbulkan sampah yang besarannya melebihi kapasitas alam untuk menampungnya. Kota juga memunculkan ketimpangan – ada sebagian orang yang menikmati kesejahteraan secara berlebihan dan cepat, yang disebabkan oleh campur tangan kapitalisme dan manajemen kota yang lemah. Hal itu tercermin dengan berdirinya perumahan mewah, jalan tol eksklusif untuk mobil pribadi – di mana orang miskin tidak mampu untuk menikmatinya. Sementara yang miskin hidup dalam lingkungan buruk dan harus menempuh jarak yang jauh ke tempat pekerjaan. Setidaknya itulah yang ditulis oleh David Simon dalam bukunya “Rethinking Sustainable Cities”, 6 tahun yang lalu.

Soal kekerabatan dan pertemanan yang merenggang dapat kita lihat dari pesta pernikahan di kampung. Waktu tante saya menikah, para tetangga datang membantu. Entah datang dari mana, tiba-tiba sudah ada 6 drum minyak tanah di halaman rumah. Tinggi drum itu kira-kira 1,5 meter. Digunakan untuk penyangga papan di atasnya yang berfungsi sebagai panggung. Di atas panggung dipasang terpal berpenyangga bambu untuk jaga-jaga apabila datang hujan. Esoknya peralatan musik dan sound sistem tiba untuk pertunjukan lagu Melayu di malam harinya, yaitu malam Minggu. Para penyanyi yang hadir tidak tanggung-tanggung, yaitu Oma Irama, Muchsin dan A. Rafiq. Memang mereka tinggal tidak jauh-jauh dari kampung saya. Waktu itu akhir tahun 60an. Dalam kehidupan sehari-hari pun mereka sering datang ke rumah, berteman dengan paman saya. Arti kata “komersial” belum ada pada kamus mereka. Karena mendapat tawaran manggung saja sudah merupakan kesempatan berlatih sekaligus kesenangan. Padahal waktu itu nama mereka sudah terkenal di radio Cendrawasih dan Ramako di Jakarta.

Tahun 70an sudah lain lagi. Lagu Melayu berganti nama menjadi musik Dangdut. Dangdut yang dulunya diidentikkan sebagai jenis musik santun, kemudian dianggap sebagai anti tesis untuk melawan musik rock yang seringkali dituding liar lagi brutal. Oma Irama kemudian di tahun 1973 membentuk grup musik sendiri, namanya Soneta. Dan ia sendiri namanya berubah menjadi Rhoma Irama, ada tambahan gelar Haji dan ningrat. Pada tahun 1984, penggemar Rhoma dan Soneta tidak kurang dari 15 juta orang atau lebih dari 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia saat itu. Dari situ pula ia memperoleh julukan Raja Dangdut. Ia juga membuat puluhan film yang menggambarkan dirinya sebagai seorang Satria yang mengendarai kuda dan menggunakan gitar sebagai senjatanya. Ia pun sukses secara komersial, gaya hidupnya berubah. Kami yang masih di kampung seperti dulu, sekarang hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Ia menjadi tidak terjangkau. Rhoma Irama tidak lagi makhluk nyata yang bisa disapa, dipegang dan disentuh, namun ia hanya dapat kita lihat di koran, televisi dan bioskop, bukan dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang sama terjadi pada Muchsin dan A. Rafiq. Ia tidak lagi berada di kampung belakang yang suka ikut gabung main catur dengan Hansip dan merokok bareng sambil main gapleh dengan petugas ronda di RT.

Tahun 1975 adalah tahun kejayaan musik dangdut dengan munculnya album “Begadang” yang dinyanyikan Rhoma Irama. Ia pun baru berganti label rekaman dari Remaco ke Yukawi. Album itu diberi label “Volume 1” yang diikuti oleh volume-volume berikutnya sampai belasan. Inovasi yang dilakukan oleh Rhoma Irama adalah menggabungkan lagu rock dengan dangdut. Ia mengambil potongan rif dari lagu “Stormbringer” Deep Purple untuk diadopsi menjadi “Nyanyian Setan” dari Soneta (Volume 5). Ia juga mengambil potongan melodi “When a Blind Man Cries” dari Deep Purple dalam lagu “Buta” (Volume 11). Dan potongan-potongan melodi dari “Child in Time” dari Deep Purple menjadi lagu “Ghibah” (Volume 12) dan “Lapar” (Volume 5). Tetapi pengambilan dilakukan secara kreatif sehingga tidak terasakan dan hal itu menurut saya sah-sah saja, bukan suatu penjiplakan. Ia memang terpengaruh oleh Ritchie Blackmore, gitaris Deep Purple yang hebat itu. Pertanyaannya adalah, mengapa kemampuan gitar Rhoma Irama baru muncul ketika ia bergabung dengan Yukawi dan mendirikan Soneta, tidak ketika dulu ia bergabung dengan label sebelumnya.

Rhoma juga adalah seorang fashion designer, ia menciptakan busana di panggung maupun dalam film yang mirip jubah Diponegoro, sebagai personifikasi pahlawan Islam. Di situ pula yang menurut saya sebagai kekuatan sekaligus kelemahan. Kekuatan dari mengidentifikasi diri sebagai musik Islam menjadikan dirinya ikon untuk pahlawan kaum marginal yang tinggal di kampung seperti saya, walau sebenarnya ia bukan lagi orang yang terpinggirkan – dengan banyaknya penghasilan dari rekaman, film dan panggung pertunjukan kolosal yang diciptakannya. Namun kelemahannya adalah seringkali sebagai figur “hero” musik Islam, ia juga kerap melakukan tindak kontroversial seperti mempunyai banyak pacar dan ribut dengan orang. Belum lagi anaknya suka berurusan dengan Polisi karena terlibat kasus narkoba. Saya mencintai Rhoma Irama. Namun karya-karya awalnya yang terasa jujur jauh lebih indah ketimbang karya-karyanya yang dibalut dengan nasehat. Mari kita nikmati lirik lagu “Ani” (Volume 6) berikut ini:

Ani, Ani Sungguh aku tahu kau cinta padaku Ani, Ani Engkau juga tahu ku cinta padamu Tetapi untuk sementara biarlah berpisah Ku pergi karena terpaksa demi cita-cita Ani, Ani Tabahkan hatimu, aku juga rindu

Ini semua aku lakukan demi cinta Cintaku kepadamu, Ani, cinta yang suci

Nanti bila sudah tercapai cita-cita Baru aku akan kembali padamu, Ani Sabarlah sayang, tunggu ku pulang Sabarlah sayang, tunggu ku pulang

Di masa tua, di umur 76 tahun, Rhoma aktif membuat Podcast bersama teman-temannya dari masa lalu. Dengan logatnya yang di-arab-arab-kan dan seringkali beristighfar serta menahan tawa, Podcast itu menarik. Namun akan lebih baik jika sedikit diedit agar lebih ringkas dan padat. Upayanya dulu ketika ia ingin menjadi “pahlawan Islam” diwujudkan dengan langkah berani, yaitu ia berkampanye dengan PPP pada Pemilu tahun 1977. Sungguh ia seorang pahlawan demokrasi sejati. Sementara semua artis lain – melalui Aneka Ria Safari – yang dikoordinir Eddy Soed, bergabung dengan Golkar. Langkah itu pun merugikan dirinya, karena kemudian Soneta tidak boleh lagi muncul di TVRI. Hebatnya Rhoma Irama, setelah dihajar sedemikian rupa, ia masih saja mau didekati Suharto ketika di tahun 1995 Islam mulai dirayu oleh Pemerintah. Langkah menjadi pahlawan itu dilanjutkan Rhoma dengan mendirikan Partai Idaman di zaman Reformasi. Sayang Partai itu tidak pernah lolos electoral threshold. Meski demikian ia masih terus berjuang sampai sekarang. Tetap semangat !.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.