SKETSA | Rhoma Irama
Soal kekerabatan dan pertemanan yang merenggang dapat kita lihat dari pesta pernikahan di kampung. Waktu tante saya menikah, para tetangga datang membantu. Entah datang dari mana, tiba-tiba sudah ada 6 drum minyak tanah di halaman rumah. Tinggi drum itu kira-kira 1,5 meter. Digunakan untuk penyangga papan di atasnya yang berfungsi sebagai panggung. Di atas panggung dipasang terpal berpenyangga bambu untuk jaga-jaga apabila datang hujan. Esoknya peralatan musik dan sound sistem tiba untuk pertunjukan lagu Melayu di malam harinya, yaitu malam Minggu. Para penyanyi yang hadir tidak tanggung-tanggung, yaitu Oma Irama, Muchsin dan A. Rafiq. Memang mereka tinggal tidak jauh-jauh dari kampung saya. Waktu itu akhir tahun 60an. Dalam kehidupan sehari-hari pun mereka sering datang ke rumah, berteman dengan paman saya. Arti kata “komersial” belum ada pada kamus mereka. Karena mendapat tawaran manggung saja sudah merupakan kesempatan berlatih sekaligus kesenangan. Padahal waktu itu nama mereka sudah terkenal di radio Cendrawasih dan Ramako di Jakarta.
Tahun 70an sudah lain lagi. Lagu Melayu berganti nama menjadi musik Dangdut. Dangdut yang dulunya diidentikkan sebagai jenis musik santun, kemudian dianggap sebagai anti tesis untuk melawan musik rock yang seringkali dituding liar lagi brutal. Oma Irama kemudian di tahun 1973 membentuk grup musik sendiri, namanya Soneta. Dan ia sendiri namanya berubah menjadi Rhoma Irama, ada tambahan gelar Haji dan ningrat. Pada tahun 1984, penggemar Rhoma dan Soneta tidak kurang dari 15 juta orang atau lebih dari 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia saat itu. Dari situ pula ia memperoleh julukan Raja Dangdut. Ia juga membuat puluhan film yang menggambarkan dirinya sebagai seorang Satria yang mengendarai kuda dan menggunakan gitar sebagai senjatanya. Ia pun sukses secara komersial, gaya hidupnya berubah. Kami yang masih di kampung seperti dulu, sekarang hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Ia menjadi tidak terjangkau. Rhoma Irama tidak lagi makhluk nyata yang bisa disapa, dipegang dan disentuh, namun ia hanya dapat kita lihat di koran, televisi dan bioskop, bukan dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang sama terjadi pada Muchsin dan A. Rafiq. Ia tidak lagi berada di kampung belakang yang suka ikut gabung main catur dengan Hansip dan merokok bareng sambil main gapleh dengan petugas ronda di RT.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!