SKETSA | Gojek
Tetapi tidak semua berpikiran seperti saya. Telkomsel misalnya, mereka membeli obligasi konversi Gojek USD 150 juta pada November 2020, tanpa bunga, yang jatuh tempo November 2023. Ketika Gojek kemudian merger dengan Tokopedia menjadi GoTo pada 17 Mei 2021. Obligasi Telkom di Gojek dikonversi menjadi saham GoTo, Telkom malah menambah investasi USD 300 juta di GoTo. Satu bulan setelah IPO, harga saham GoTo anjlok menjadi Rp 194 per saham, Telkom rugi besar. Masalahnya, apakah saham GoTo dapat naik lagi? Bukankah pola anjloknya saham GoTo serupa dengan Bukalapak (BUKA) yang bisnisnya sejenis dan sampai hari ini tidak pernah naik lagi. Kasihan bagi yang pernah membeli saham GoTo di posisi puncak yaitu pada harga Rp 442,-
Di luar urusan saham GoTo, sebetulnya ada hal lain yang perlu diperhatikan, yaitu keluhan Merchant soal Skema Komisi Layanan GoFood. Merchant harus membayar komisi 20% dari omzet ditambah Rp 1000,- biaya transaksi. Belum lagi ada biaya lain seperti promo untuk menaikan awareness yang ongkosnya Rp 5.000. Kalau tidak ikut promo, bisa jadi merchant akan berkurang omsetnya karena tidak akan dipromosikan di dalam GoFood. Untuk ukuran ekonomi UMKM, nampaknya potongan Gojek ini terlalu besar.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!