SKETSA | Gojek
Bagi saya kehebatan Gojek yang utama ada dua. Pertama, kepandaiannya membuat software aplikasi sehingga user friendly dan cerdas, yang dihubungkan dengan e-pocket yaitu Gopay. Hal ini sangat sulit. Blue Bird misalnya, mereka membuat aplikasi MyBlueBird tidak pernah betul-betul beres sampai sekarang, padahal mereka sudah memulai mengembangkan aplikasi di smartphone jauh lebih lama dari Gojek. Sampai saat ini supir Blue Bird lebih suka menggunakan aplikasi Gojek ketimbang aplikasinya sendiri. Kedua, kepandaian Nadiem merayu para investor dalam dan luar negeri sehingga mau menyerahkan uangnya dengan senang hati ke Gojek yang jumlahnya lebih dari seratus trilyun Rupiah. Ada lagi kehebatan lain Nadiem yaitu kemampuannya melihat dan mengolah pengemudi ojek yang terlihat remeh menjadi suatu bisnis ratusan trilyun Rupiah. Ia memang visioner.
Mula-mula ia mendirikan Gojek bersama dua orang, Kevin Alwi dan Machaelangelo Moran. Kemudian, NSI Ventures, anak usaha Northstar Group yang didirikan Patrick Waluyo merupakan investor awal Gojek. Perusahaan ini masuk ke Gojek pada 2014. Selain itu ada juga East Ventures yang didirikan oleh Wilson Cuaca. Pada 2016, Gojek mendapat suntikan dana USD 550 juta yang dipimpin oleh KKR, Warburg Pincus, Farallon Capital, Capital Group Private Markets. Selain itu ada investor Sequoia India, Northstar Group, DST Global, NSI Ventures, Rakuten Ventures dan Formation Group. Pada 2018, Gojek mendapatkan suntikan dana USD 1,5 miliar yang dipimpin oleh Tencent Holdings. Dalam suntikan dana ini ada investor Via ID, Temasek Holdings, Astra International Tbk, Meituan Dianping, JD.com, Hera Capital, Google dan Blibli. Pada tahun yang sama Gojek kembali mendapatkan suntikan dana USD 920 juta dari Tencent Holdings, JD.com dan Google. Setahun kemudian Mitsubishi Motor, Mitsubishi Corporation dan Mitsubishi UFJ Financial Group jadi investor Gojek.
Langkah besar Gojek berikutnya adalah melakukan merger dengan Tokopedia dan melakukan go public dengan nama gabungan GoTo. Walau valuasi gabungan adalah Rp 243 T, namun total asetnya hanya Rp 158,17 T. Gojek dan Tokopedia (GoTo) bersama-sama rugi Rp16,6 triliun sepanjang tahun 2020. Sampai September 2021, GoTo masih rugi Rp12,25 triliun. Bagaimana nantinya kerugian GoTo pada 2022 ini, tambah besar atau mengecil? Pertanyaan berikut, mengapa merugi, padahal para investor sudah meminta Gojek berhenti bakar duit untuk promosi? Sementara itu, pendapatan GoTo per September 2021 mencapai Rp 3,40 triliun, naik dari tahun 2020 sebesar Rp 2,34 triliun. Dalam IPO itu, GoTo melepas 52 miliar saham seri A, jumlah tersebut setara 4,35% saham. GoTo mematok harga saham perdana Rp 338,- per saham. Melalui penawaran saham perdana ini GoTo berpeluang meraup dana jumbo hingga Rp 17,99 triliun. Artinya 1% saham ditawarkan sebesar Rp 4,14 T, atau 1,7 kali dari nilai valuasinya. Terlepas dari kekaguman kepada Nadiem, saya tidak akan mau membeli saham GoTo. Karena perusahaan itu menjual sahamnya ke publik terlalu mahal dan rugi perusahaan itu mempunyai kecenderungan membesar selama 12 tahun beroperasi. Buat apa membeli perusahaan rugi dengan harga mahal?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!