Riset Ungkap Fenomena "Double Subsidy" yang Bebani Media
VISI.NEWS — Kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) tidak lagi menjadi alat bantu semata bagi industri media. Kehadirannya mulai mengubah cara publik mengakses informasi, menggerus lalu lintas kunjungan ke situs berita, sekaligus menimbulkan tantangan baru terhadap keberlanjutan bisnis media di Indonesia.
Kesimpulan itu mengemuka dalam peluncuran dua hasil riset yang diselenggarakan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bekerja sama dengan Monash University Indonesia dan PR2Media di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin, 20 Juli 2026. Kedua penelitian tersebut mengulas dampak AI generatif terhadap model bisnis media sekaligus mengukur kesiapan perusahaan media dalam mengadopsi teknologi tersebut.
Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika mengatakan kedua riset tersebut disusun sebagai pijakan bersama untuk memahami perubahan yang sedang berlangsung di industri media. Menurut dia, hasil penelitian tidak dimaksudkan hanya menjadi pengetahuan internal AMSI, melainkan menjadi dasar bagi para pemangku kepentingan dalam menyusun langkah kolektif menghadapi perkembangan AI. "Kami ingin informasi ini menjadi pengetahuan kita bersama sehingga percakapan-percakapan ke depan berdasarkan realita yang sama dan memudahkan kita merumuskan langkah-langkah bersama," kata Wahyu.
Dalam kesempatan yang sama, Grants and Partnerships Manager Asia & the Pacific International Fund for Public Interest Media (IFPIM), Trinna Leong, mengatakan perubahan yang dihadapi media bukan lagi sekadar persoalan teknologi, melainkan perubahan mendasar dalam cara publik menemukan informasi.
"Sepanjang sejarah internet, hubungan antara publik dan ruang redaksi berlangsung secara langsung. Pembaca mencari jawaban dan menemukan berita yang dilaporkan, disunting, serta dipertanggungjawabkan oleh jurnalis. Kini jalur itu diam-diam sedang dialihkan," ujar Trinna.
Menurut dia, AI kini semakin sering menyajikan ringkasan informasi tanpa membawa pengguna mengunjungi sumber asli berita. "Jawaban kini muncul tanpa pengguna pernah mencapai sumber langsung. Ringkasan dibuat oleh mesin yang dilatih menggunakan karya jurnalistik yang kini justru berdiri di depan sumber tersebut."
Trinna menilai situasi tersebut sudah berlangsung saat ini dan dampaknya dirasakan langsung oleh ruang-ruang redaksi di Indonesia.
"Ini bukan lagi kekhawatiran teknis yang jauh di masa depan. Ini sedang terjadi sekarang, lebih cepat daripada yang kita perkirakan."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!