Riset Ungkap Fenomena "Double Subsidy" yang Bebani Media
Peneliti Monash University Indonesia, Ika Idris kemudian memaparkan hasil penelitian mengenai dampak AI generatif terhadap industri media, khususnya sejak Google meluncurkan fitur AI Overview dan melakukan sejumlah pembaruan algoritma pencarian.
Menurut Ika, penelitian dilakukan menggunakan data kunjungan (visitors), click-through rate (CTR), dan impresi dari sejumlah perusahaan media, yang kemudian dilengkapi dengan data Similarweb serta wawancara mendalam dengan pengelola media. Hasilnya menunjukkan lalu lintas pengunjung media mengalami penurunan secara konsisten.
Pada kelompok media yang diteliti, rata-rata penurunan trafik bahkan mencapai sekitar 54 persen, dengan media berskala menengah menjadi kelompok yang mengalami dampak paling besar. Penurunan CTR juga terjadi setelah Google AI Overview diperkenalkan dan diperbarui melalui sejumlah core update.
Tim peneliti juga melakukan analisis causal impact untuk melihat hubungan antara peluncuran AI Overview dan penurunan trafik.
"Dari 13 media besar yang kami teliti, enam menunjukkan penurunan yang signifikan secara statistik," ujar Ika.
Salah satu temuan utama penelitian adalah munculnya fenomena yang disebut double subsidy. Ika menjelaskan perusahaan media pada praktiknya memberikan dua bentuk subsidi kepada perusahaan pengembang large language model (LLM).
Subsidi pertama terjadi ketika konten jurnalistik diambil melalui proses scraping untuk melatih model AI tanpa kompensasi kepada media sebagai pemilik konten.
Subsidi kedua muncul ketika aktivitas crawler AI meningkatkan beban lalu lintas server media. Lonjakan akses dari bot AI membuat perusahaan media harus meningkatkan kapasitas server dan menanggung biaya tambahan, meskipun aktivitas tersebut tidak menghasilkan pendapatan bagi perusahaan.
Dalam wawancara dengan pengelola media, biaya tambahan server akibat aktivitas tersebut berkisar antara puluhan juta hingga sekitar Rp100 juta per bulan, terutama bagi media yang harus meningkatkan kapasitas layanan mereka.
"Jurnalisme menopang demokrasi, menopang ekosistem informasi, sekarang juga menopang perusahaan AI. Tetapi media justru menanggung biaya tanpa memperoleh manfaat ekonomi yang sepadan," kata Ika.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!