REFLEKSI | Ustad dan Bidadari
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
JIKA kita lihat beberapa ceramah para penyampai hikmah, dari para ustad di Medsos, cerita tentang sosok bidadari adalah sebuah cerita yang sepertinya membuat mereka sangat bersemangat menyampaikan 'gairah,' dalam tanda kutip, yang sebetulnya tidak pantas di sampaikan, hanya untuk menunjukan betapa hasrat naluri insting libidonya, sampai harus ia fantasikan, bisa di bawa sampai mati, dan kembali hasratnya itu dimunculkan, pada saat ia di hidupan kembali, bila saatnya ia dibangkitkan kelak di akhirat.
Sangat miris menanggapi kecerobohan cara berpikir yang mengedepankan iming-iming bidadari, yang bisa ia nikahi dan gauli, sampai dengan 72 bidadari yang bisa ia dapatkan, dan hal itu dengan gagah, tampa malu ia sampaikan di atas mimbar kajian ilmu, saat ia berkesempatan menyampaikan itu di muka umum, dalam sebuah ceramah pengajian keagamaan.
Rasanya lucu, kesal, campur geram. Ketika kita melihat cara ustad medsos ini memberi "mimpi," dan mengajak jamaahnya untuk memikirkan ini, agar jamaahnya bersemangat dalam beribadah dan berbuat kebaikan.
Sungguh sebuah pembodohan pada umat kita, ketika tujuan beribadah, tujuan berbuat kebaikan, niatnya hanya untuk sampai pada mendapatkan bidadari, sebanyak 72 orang.
Coba kita telaah, apakah pantas pembodohan dalam penyimpangan tujuan setiap perbuatan yang kita lakukan, sesuatunya yang kita perbuat itu tujuannya, hanya karena Allah, disimpangkan untuk tujuan mendapatkan bidadari ?
Ini sebuah keironisan, yang menunjukan lemahnya si pendakwah atau ustad tersebut, dalam menyampaikan sesuatu secara hikmah, yang opini pikirannya justru membuat marwah agama kita, tercemari kehormatannya, dan anehnya, tidak ada satupun jemaah yang berani interupsi untuk memotong pembicaraannya, dan menginggatkan si ustad ini untuk berbicara lurus dan konstruktif kembali.
Cara berpikir kebelinger ini sangat banyak kita lihat, dari para penyampai syiar Islam yang ingin mencari popularitas, tampa memikirkan kehormatan, keagungan agamanya. Ia bak busur panah yang melesatkan kesesatan, sesesat-sesatnya dalam mengajari umat untuk berpikir kerdil, dan bodoh, seperti pikirannya yang tidak menunjukan kedewasaan dalam memahami agamanya sendiri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!