Ustadz ‘Anti Biasa’: Ngomong Bisnis, Ujungnya Surga
Ustadz Dr. Fatria Daha Saputra, Lc., M.A. /visi.news/ihda da'watul aba
VISI.NEWS | BANDUNG - Angin pegunungan berembus pelan di saung Desa Mekarjaya, Pacet, Kabupaten Bandung, Selasa siang (7/4/2026). Tak ada suasana formal. Tak ada jarak antara pembicara dan hadirin. Di tengah kesederhanaan itu, seusai penandatanganan naskah kerjasama antara PT. Mahajaya dan Kades Mekarjaya, seorang ustadz dengan gaya tak lazim mengambil perhatian: Dr. Fatria Daha Saputra, Lc., M.A.
Ia datang bukan dengan retorika tinggi, melainkan dengan gaya tutur yang cair, bahkan sesekali terdengar seperti obrolan santai. Logat Banjar-nya masih kental, meski kini ia lebih sering bermukim di Bogor, Jawa Barat. Tapi justru di situlah letak kekuatannya—ia terasa dekat, bukan menggurui.
“Siapa saja yang berusaha, pasti dikasih,†kata pemilik Pesantren Tahfidz Qur'an di Bogor ini membuka tausiahnya. Lalu ia berhenti sejenak, sebelum menambahkan kalimat yang menjadi inti dari seluruh pesannya: “Tapi, kalau kita hadirkan Allah di setiap usaha kita, itu baru beda.â€
Bagi Fatria, usaha bukan sekadar soal kerja keras atau kecerdikan membaca peluang. Ada dimensi lain yang sering dilupakan: menghadirkan Tuhan dalam setiap langkah. Dimulai dari hal paling dasar—menjalankan syariat.
Ia tidak menolak pentingnya skill, relasi, atau strategi bisnis. Namun ia mengingatkan, ketika manusia terlalu percaya pada semua itu, ada satu risiko besar: merasa cukup tanpa Tuhan. “Allah itu pencemburu,†ujarnya, setengah bercanda, setengah serius.
Kalimat itu memancing tawa kecil. Tapi ia segera melanjutkan dengan analogi yang mudah dipahami. Ia menyamakan hubungan manusia dengan Tuhan seperti anak dan orang tua. Ketika anak mulai “sok bisaâ€, merasa tak butuh orang tua, fasilitas akan ditarik.
“Handphone diambil, ini diambil semua,†katanya sambil tersenyum. Hadirin ikut tertawa. Tapi tak lama, suasana kembali hening ketika ia melanjutkan, “Begitu dia nempel lagi, langsung sayang.â€
Di titik itu, ceramahnya berubah menjadi refleksi. Ia tidak bicara tentang hidup tanpa masalah. Justru sebaliknya. Menurutnya, orang yang dekat dengan Tuhan tetap diuji. Bedanya, mereka tidak kehilangan harapan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!