VISI | Refleksi HUT ke-385 Kabupaten Bandung

ED
Senin, 20 April 2026 | 06:47 WIB
Bagikan
VISI | Refleksi HUT ke-385 Kabupaten Bandung

Oleh Aep S. Abdullah

PERAYAAN Hari Ulang Tahun ke-385 Kabupaten Bandung yang disederhanakan oleh Dadang Supriatna memang memberi pesan kuat: empati di atas seremoni. Namun di balik keputusan itu, terselip ironi panjang yang belum pernah benar-benar selesai—kisah banjir Sungai Citarum yang terus berulang, lintas rezim, lintas anggaran, lintas janji.

Seolah-olah, setiap ulang tahun hanya mengganti dekorasi, bukan memperbaiki fondasi. Banjir tetap datang seperti tamu undangan yang tak pernah absen. Dan setiap kali itu terjadi, kita kembali pada narasi lama: bantuan darurat, kunjungan pejabat, dan janji perbaikan.

Masalahnya, Citarum bukan sekadar sungai. Ia adalah sistem kompleks sepanjang 297 kilometer yang melintasi banyak wilayah, menopang kehidupan jutaan orang, sekaligus menjadi saksi kegagalan tata kelola lingkungan selama puluhan tahun.

Baca juga VISI | Jurus Cerdas Bupati Bandung Mengubah Defisit Jadi Mesin Sirkular Ekonomi VISI | May Day: Refleksi Masa Lalu untuk Masa Depan Buruh Jawa Barat VISI | Kiai: Dari Ladang ke Layar, dari Nadoman ke Narsisman

Pada era Ahmad Heryawan sebagai Gubernur Jabar, peringatan sudah disampaikan: pendekatan struktural seperti kirmir, normalisasi, dan pengerukan tidak cukup. Tahun 2012 program besar digulirkan, sempat berhasil menahan banjir pada 2013–2014, tapi kembali jebol pada 2015 dan 2016. Seperti menambal bocor dengan plester.

Aher bahkan secara terbuka meminta pemerintah pusat menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk program non-struktural: konservasi hulu, penataan lahan, hingga perubahan perilaku masyarakat. Sebab tanpa itu, infrastruktur hanya menjadi kosmetik mahal.

Data yang tersedia justru makin mencemaskan. Setiap tahun, sekitar 500.000 meter kubik sedimentasi mengendap di dasar sungai. Penurunan muka tanah mencapai 8,3 cm per tahun. Dan yang lebih mencengangkan: setiap hari sekitar 400 ton limbah ternak, 25.000 ton sampah domestik, dan 280 ton limbah industri mengalir ke sungai.

Dengan angka seperti itu, banjir bukan lagi bencana—melainkan konsekuensi matematis.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.