REFLEKSI | Ustad dan Bidadari

ED
Selasa, 7 Juni 2022 | 07:30 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Ustad dan Bidadari

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

JIKA kita lihat beberapa ceramah para penyampai hikmah, dari para ustad di Medsos, cerita tentang sosok bidadari adalah sebuah cerita yang sepertinya membuat mereka sangat bersemangat menyampaikan 'gairah,' dalam tanda kutip, yang sebetulnya tidak pantas di sampaikan, hanya untuk menunjukan betapa hasrat naluri insting libidonya, sampai harus ia fantasikan, bisa di bawa sampai mati, dan kembali hasratnya itu dimunculkan, pada saat ia di hidupan kembali, bila saatnya ia dibangkitkan kelak di akhirat.

Sangat miris menanggapi kecerobohan cara berpikir yang mengedepankan iming-iming bidadari, yang bisa ia nikahi dan gauli, sampai dengan 72 bidadari yang bisa ia dapatkan, dan hal itu dengan gagah, tampa malu ia sampaikan di atas mimbar kajian ilmu, saat ia berkesempatan menyampaikan itu di muka umum, dalam sebuah ceramah pengajian keagamaan.

Rasanya lucu, kesal, campur geram. Ketika kita melihat cara ustad medsos ini memberi "mimpi," dan mengajak jamaahnya untuk memikirkan ini, agar jamaahnya bersemangat dalam beribadah dan berbuat kebaikan.

Sungguh sebuah pembodohan pada umat kita, ketika tujuan beribadah, tujuan berbuat kebaikan, niatnya hanya untuk sampai pada mendapatkan bidadari, sebanyak 72 orang.

Coba kita telaah, apakah pantas pembodohan dalam penyimpangan tujuan setiap perbuatan yang kita lakukan, sesuatunya yang kita perbuat itu tujuannya, hanya karena Allah, disimpangkan untuk tujuan mendapatkan bidadari ?

Ini sebuah keironisan, yang menunjukan lemahnya si pendakwah atau ustad tersebut, dalam menyampaikan sesuatu secara hikmah, yang opini pikirannya justru membuat marwah agama kita, tercemari kehormatannya, dan anehnya, tidak ada satupun jemaah yang berani interupsi untuk memotong pembicaraannya, dan menginggatkan si ustad ini untuk berbicara lurus dan konstruktif kembali.

Cara berpikir kebelinger ini sangat banyak kita lihat, dari para penyampai syiar Islam yang ingin mencari popularitas, tampa memikirkan kehormatan, keagungan agamanya. Ia bak busur panah yang melesatkan kesesatan, sesesat-sesatnya dalam mengajari umat untuk berpikir kerdil, dan bodoh, seperti pikirannya yang tidak menunjukan kedewasaan dalam memahami agamanya sendiri.

Berkatalah ia bahwa, " perempuan itu jangan egois untuk tidak menerima poligami di dunia, karena nanti di surga, justru setiap lelaki, para suami, malah di beri 72 bidadari yang akan menamani."

Sungguh teramat kejam kata-katanya, ia, si Ustad itu, telah secara sadar ia mengucapkan, mendokrin, mempengaruhi jamaahnya, agar para jamaahnya, menerima konsepsi cara berpikirnya. Racun pemikiran, yang mencoba mengugah para wanita, ibu-ibu dalam majlisnya, agar membuka pikirannya mau di duakan, dan menerima poligami sebagai sebuah keniscayaan yang ia tawarkan, pada para jamaahnya untuk menerima sebuah dogma, yang bisa menghancurkan kebahagian mahligai rumah tangga jamaahnya.

Sungguh si ustad model ini, ia telah di kelabuhi Iblis, hawa nafsunya telah menutup hatinya, dan ia panjang angan-angan mengharap bisa mendapatkan bidadari, sedangkan ia sendiri belum tentu Allah beri surga, sebagai tempatnya berada di kehidupan berikutnya nanti.

Ada dua perkara yang paling dikhawatirkan oleh Nabi kita, akan pemikiran yang menghinggapi pribadi Muslim, yaitu mengikuti hawa nafsu dan thul al-amal (banyak angan-angan).

Hawa nafsu itu gelap, ia dapat mengarahkan seorang Muslim jauh dari kebenaran. Sementara itu, pengharapan berlebihan (banyak angan-angan) mengakibatkan umat lalai mempersiapkan niat suci, dalam beribadah, untuk tujuan kehidupan akhiratnya, salah tujuan dalam berniat, akan membuatnya justru terhina, dan terperosok api neraka, Sehingga ia tak sadar, bahwa iblis setiap saat, akan terus melakukan tipu daya dan menebarkan bisikan jahat kepada anak cucu keturunan Adam.

Membangun niat, meluruskan tujuan, memurnikan langkah hati, tidak bisa mengandalkan satu orang ustad yang kita fanatiki, untuk di jadikan panutan.

Fanatik sendiri pastinya akan menutup banyak kebenaran dan ilmu yang lebih luas yang seharusnya bisa kita timba dan dapatkan.

Fanatik bisa membuat kita buta, dan bisa menutup apapun yang mampu membuka kebenaran yang datang pada kita.

Apa yang harus kita sikapi, jika kita mendapatkan seorang ustad yang dalam penyampaiannya tidak membuat kita menjadi cerdas, dan terbukanya pemahaman?

Sebaiknya kita tinggalkan!

Karena tidak ada ilmu yang bisa kita dapatkan dari seorang penyampai yang panjang angan-angan dan besar nafsunya.

Menurut Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyathii dalam karyanya Kifayat al-Atqiya' Wa Minhaj al-Ashfiya, kunci menggapai kebahagiaan dan kebaikan adalah melawan kedua perkara yang diperingatkan Rasulullah tersebut. "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya." (QS an-Naziaat : 40).***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.