REFLEKSI | Secangkir Kopi dan Runtuhnya Firaun Kecil (Ketika 'Sruput' Berubah Menjadi 'Nyut')
Kopi hitam itu tenang. Diam. Dia mengajarkan pelajaran brutal: Kita ini rapuh.
Kita sering merasa diri kita baja. Kita sering meremehkan orang lain yang lemah, yang lambat, yang "baperan". Padahal, kita sendiri cuma segumpal daging yang kebetulan belum disentil sakitnya.
Disentil saraf setipis rambut saja, logika rasional kita mati. Kecerdasan kita lumpuh. Uang di rekening tidak bisa menyogok saraf gigi untuk berhenti menjerit.
Jabatan tinggi tidak bisa memerintah rasa nyeri untuk pergi.
3. Pahit yang Menyadarkan
Mungkin benar kata orang tua dulu, kopi itu harus pahit. Karena manis seringkali melena-kan.
Gula di kopi inilah yang mungkin melubangi gigi saya pelan-pelan tanpa sadar, seperti pujian dan jabatan yang melubangi karakter kita pelan-pelan tanpa kita sadar.
Dan ketika rasa sakit itu datang, barulah kita sadar bahwa ada yang "keropos" di dalam diri kita.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!