Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026

REFLEKSI | ​Secangkir Kopi dan Runtuhnya Firaun Kecil ​(Ketika 'Sruput' Berubah Menjadi 'Nyut')

ED
Senin, 2 Februari 2026 | 06:34 WIB
Bagikan
REFLEKSI | ​Secangkir Kopi dan Runtuhnya Firaun Kecil ​(Ketika 'Sruput' Berubah Menjadi 'Nyut')
Oleh Didi Subandi

Lokasi: Cimenyan. Waktu: Senin, 2 Februari 2026. Pagi yang dingin.

Suasana: Kabut masih menggantung. Di meja, uap kopi menari-nari, menjanjikan kekuatan untuk menaklukkan Senin yang ganas.

​Saya mengangkat cangkir ini dengan gaya seorang pemenang.

Kemeja sudah rapi. Rencana kerja sudah tersusun di kepala: "Hari ini saya akan marahi si A," "Hari ini target harus tembus."

Saya merasa seperti Jenderal Perang yang siap memberi titah. Gagah. Tak tersentuh. ​Lalu, bibir menyentuh bibir cangkir.

Cairan hitam yang panas dan manis itu mengalir masuk. Dan... BAM!

Bukan kenikmatan yang datang, tapi Petir. Tepat di geraham kanan bawah. Kopi yang panas itu menyentuh satu titik saraf yang terekspos—sebuah lubang kecil tak kasat mata.

1. Kopi yang Mengkhianati Ego Nyuuut...*

Dalam hitungan detik, cangkir itu nyaris terlempar.

Wibawa "Sang Jenderal" yang saya bangun 30 menit di depan cermin, runtuh seketika.

​Lihatlah saya sekarang. Bukan lagi sosok yang siap menaklukkan dunia, tapi sosok yang memegangi pipi sambil meringis. Matanya berair. Mulutnya mendesis.

Dasi yang rapi mendadak terasa mencekik. Rapat penting nanti siang mendadak tidak ada artinya.

​Kopi ini, yang biasanya jadi sumber inspirasi, pagi ini berubah jadi Detektor Kesombongan. Dia seolah berbisik kasar:

"Heh, Tuan yang Sombong! Kamu merasa kuat? Kena air panas sedikit saja kamu sudah berlutut!"

​2. Guru Sufi di Dalam Cangkir

Sambil menunggu rasa ngilu itu reda (yang rasanya lama sekali, seperti menunggu lampu merah Kircon), saya menatap nanar ke dalam cangkir.

​Kopi hitam itu tenang. Diam. Dia mengajarkan pelajaran brutal: Kita ini rapuh.

Kita sering merasa diri kita baja. Kita sering meremehkan orang lain yang lemah, yang lambat, yang "baperan". Padahal, kita sendiri cuma segumpal daging yang kebetulan belum disentil sakitnya.

​Disentil saraf setipis rambut saja, logika rasional kita mati. Kecerdasan kita lumpuh. Uang di rekening tidak bisa menyogok saraf gigi untuk berhenti menjerit.

Jabatan tinggi tidak bisa memerintah rasa nyeri untuk pergi.

​3. Pahit yang Menyadarkan

Mungkin benar kata orang tua dulu, kopi itu harus pahit. Karena manis seringkali melena-kan.

Gula di kopi inilah yang mungkin melubangi gigi saya pelan-pelan tanpa sadar, seperti pujian dan jabatan yang melubangi karakter kita pelan-pelan tanpa kita sadar.

​Dan ketika rasa sakit itu datang, barulah kita sadar bahwa ada yang "keropos" di dalam diri kita.

Lubang itu bernama: Keangkuhan.

​*Meminumnya dengan Tunduk*

​Sakitnya mulai reda, menyisakan denyutan samar.

Saya mencoba meraih cangkir itu lagi. Tapi kali ini, beda. ​Tidak ada lagi gaya angkuh mengangkat dagu.

Saya meminumnya pelan-pelan. Hati-hati. Sedikit takut.

Saya menyeruputnya dengan rasa hormat pada rasa sakit, dan rasa sadar akan kelemahan diri.

​Senin ini, mari berjalan keluar rumah dengan langkah yang lebih pelan.

Jangan menatap orang lain dengan mata elang yang tajam menghakimi. Tataplah mereka dengan mata yang sadar:

Bahwa kita semua sama-sama manusia rapuh, yang sedang berhati-hati meminum kopi kehidupan, berharap tidak ada rasa sakit yang tiba-tiba menyengat.

​Kopi saya sudah dingin. Tapi anehnya, kesadaran saya justru baru saja hangat.

​Renungan Senin Pagi (Edisi Sakit Gigi).

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.