Kecoa Bisa Mengajari Kita Banyak Hal Tentang Makan Enak
Alasannya adalah ketika Anda membandingkan harga relatif berbagai makronutrien dalam makanan yang kita makan, maka proteinlah yang paling mahal.
Menghindari obesitas kemudian menjadi tantangan sosio-ekonomi, dimana masyarakat dengan pendapatan rendah terpaksa menjauhi asupan protein yang direkomendasikan dan memilih makan lemak dan karbohidrat secara berlebihan.
Makanan olahan dikaitkan dengan emisi yang lebih tinggi
Memahami bahwa kita memprioritaskan protein juga penting ketika mempertimbangkan dampak lingkungan dari pola makan yang kita makan.
Makanan berprotein tinggi dikaitkan dengan emisi gas rumah kaca yang tinggi, jadi Anda mungkin berasumsi bahwa kita harus mengurangi kepadatan protein dalam makanan kita agar juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca.
Namun asumsi ini mengasumsikan bahwa asupan energi kita tetap konstan seiring dengan berkurangnya proporsi protein dalam makanan kita, dan hal ini kita ketahui tidak benar.
Asupan protein kitalah yang tetap konstan, sehingga ketika kita mengencerkan proporsi protein dalam makanan kita, asupan energi kita meningkat.
Jika kita menganalisis kembali data dalam istilah-istilah tersebut, kita menemukan bahwa mengurangi protein dalam pola makan akan mengurangi emisi gas rumah kaca, namun hanya jika makanan berprotein tinggi digantikan oleh makanan yang berasal dari tumbuhan, seperti sayur-sayuran, biji-bijian, buah-buahan dan kacang-kacangan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!