KAJIAN | Tahlilan
Perlu dimengerti, maksud dari mengadiahkan pahala ada dua:
1) Menjadikan (Meniati) pahala dari sebuah amal yang dikerjakan agar bisa dinikmati oleh orang lain yang dituju. 2) Berdo’a agar pahala dari amal tersebut bisa dinikmati oleh orang lain.
Dari dua masalah ini kemudian muncul berbagai pandangan dalam madzhab Syafi’iyah. Imam Syafi’i sendiri menyatakan bahwa seseorang tidak bisa menerima pahala bacaan al-Qur’an yang diniatkan orang lain untuk diberikan kepadanya. Pendapat tersebut berbeda dengan kesepakatan Imam Tsalatsah, yakni Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Bukhari. Beliau berdalih dengan firman Allah SWT:
وان ليس للانسان الا ما سعى
“Dan sungguh seseorang manusia tidak mempunyai hak selain pahala dari amal yang telah diusahakannya”. (QS. An-Najm: 39).
Begitu pula Hadits Riwayat Imam Turmudzi:
عن أبي هريرة رضي الله عنه. إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال. اذا مات ابن الإنسان انقطع عنه عمله الأمن ثلاثة.صدقة جارية وعلم ينتفع به وولد صالح يدعو له.
“Dari Abi Hurairah RA, Sungguh Rasulillah SAW telah bersabda, 'Ketika seseorang telah meninggal maka terputuslah darinya ama perbuatannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at dan anak yang saleh yang mendo’akannya”. (HR. Turmudzi).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!