KAJIAN | Tahlilan
Oleh Gus Basir
TAHLILAN yang berakar dari kata "tahlil" dalam bahasa Arab bermakna mengucapkan kalimah thayibah لااله الا الله (tiada tuhan selain Allah). Tahlil kemudian menjadi istilah rangkaian bacaan yang terdiri dari berbagai dzikir seperti tahmid, tasbih, tahlil, ayat ayat al Qur’an dan do’a. Karena bacaan tahlil lebih dominan dari yang lainnya, maka kata tahlil terpilih menjadi nama rangkaian bacaan tersebut. Lantas dikenallah istillah Tahlilan. Yang berarti kegiatan berkumpul untuk membaca tahlil.Biasanya Tahlilan yang menjadi tradisi masyarakat Nahdliyin ini digelar pada waktu kematian seseorang sampai hari ketujuh. Lalu secara berurutan pada hari ke empat puluh, seratus, dan hari ke seribu dari hari kematiannya yang disebut istilah Nyewu kemudian setelah itu tahlilan dilaksanakan secara periodik setiap tahun pada tanggal dan bulan kematiannya. Rutinitas tahunan ini dikenal dengan istilah "Haul" yang berasal dari “الحول” (se tahun). Setelah acara tahlilan selesai pada umumnya tuan rumah menghidangkan makanan dan minuman kepada para jama’ah. Selain itu, mereka juga di beri "berkat" buah tangan berupa makanan dengan maksud bersedekah yang pahalanya diperuntukan kepada orang yang “dikirimi“ doa.
Tahlilan diselenggarakan dengan tujuan mengirim pahala dari bacaan-bacaan yang dibaca dan mendo’akan agar amal orang yang ditahlili diterima dan dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Sampai sekarang tradisi yang menjadi identitas masyarakat Nahdliyin ini tidak lepas dari kontroversi. Ada pihak yang menyetujui keberadaannya dan ada pula yang antusias menolak dengan argumennya masing-masing. Oleh sebab itu sering kali kita jumpai kebingungan masyarakat awam menanggapi fenomena ini. Sebagian diantara mereka yang sudah terbiasa melaksanakannya ada yang menjadi ragu bahkan meninggalkannya. Namun banyak pula kelompok masyarakat yang sebelumnya antipati kemudian gemar mengamalkan Tahlilan.
Sebelum terlanjur mengklaim Tahlilan sebagai kegiatan yang salah seperti pendapat sebagian orang, alangkah baiknya bila kita kaji tradisi ini dengan arif dan bijak.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!