Gempolin, Jurus Gempol Sari Pangkas Sampah Organik
Salah satu aspek yang menjadi pembeda Gempolin adalah adanya upaya memastikan data yang masuk benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan. Laporan warga tidak berhenti pada pencatatan administratif, tetapi harus diikuti tindakan nyata.
Warga yang awalnya tercatat belum melakukan pemilahan dapat mengalami perubahan status setelah benar-benar menerapkan pemilahan dan melaporkannya. Dengan demikian, aplikasi tidak hanya berfungsi sebagai alat pendataan, tetapi juga sebagai instrumen pemantauan perubahan perilaku masyarakat.
“Jangan hanya laporan bahwa dia sudah memilah, tapi ternyata tidak ada action. Dengan adanya ini ada aksi dari warga yang memang benar-benar sudah memilah,” kata Wahidin.
Model tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Gempol Sari mulai bergeser dari pola kumpul, angkut dan buang menjadi pengelolaan sejak dari sumber. Rumah tangga menjadi titik awal dalam menentukan apakah sampah akan menjadi beban lingkungan atau dapat dimanfaatkan kembali.
Program Gempolin juga memperlihatkan bahwa penanganan sampah tidak selalu harus dimulai dengan pembangunan fasilitas besar. Pendataan yang akurat, perubahan perilaku, keterlibatan kader, pengolahan sederhana dan penyesuaian metode dengan kondisi lingkungan dapat menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan sampah berbasis kawasan.
Dengan kemampuan menangani sekitar 200 kilogram sampah organik per hari dan tingkat partisipasi pemilahan yang disebut telah mencapai lebih dari 90 persen warga, Gempol Sari terus mendorong agar pengelolaan sampah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Ke depan, keberlanjutan Gempolin akan sangat bergantung pada konsistensi warga dalam memilah, kedisiplinan pengelolaan di tingkat RT dan RW, serta kemampuan pemerintah kewilayahan menjaga sistem pendataan dan pengolahan tetap berjalan.
Bagi Gempol Sari, persoalan sampah bukan lagi semata-mata tentang bagaimana sampah diangkut setelah menumpuk. Melalui Gempolin, sampah mulai diperlakukan sebagai persoalan yang harus diselesaikan sejak dari rumah, sekaligus sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan sebelum benar-benar menjadi limbah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!