Gempolin, Jurus Gempol Sari Pangkas Sampah Organik
Menurut Wahidin, cara tersebut dinilai lebih efektif karena kader dapat melihat langsung kondisi setiap keluarga sekaligus memberikan edukasi sesuai kebutuhan.
“Kalau sosialisasi dikumpulkan banyak biasanya kurang efektif. Kita punya kader-kader Gempolin yang berkeliling, mengetuk pintu untuk melihat kondisi keluarganya sudah memilah atau belum. Jadi diedukasi langsung,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut membuat proses edukasi menjadi lebih personal. Warga yang belum memahami pemilahan dapat langsung memperoleh penjelasan mengenai jenis sampah yang harus dipisahkan dan bagaimana sampah tersebut dapat dikelola setelah berada di rumah.
Setelah warga memiliki kemauan untuk memilah, tahap berikutnya adalah menentukan metode pengolahan yang sesuai. Gempol Sari tidak menerapkan satu metode yang sama untuk seluruh wilayah karena kondisi lingkungan setiap RT berbeda.
Keterbatasan lahan menjadi salah satu persoalan yang harus diperhitungkan. Karena itu, pemerintah kelurahan menyesuaikan sarana pengolahan dengan kondisi masing-masing kawasan.
Metode yang digunakan antara lain komposter, bata terawang, loseda, rumah maggot hingga lubang kompos. Pemilihan metode dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan ketersediaan ruang di setiap RT.
“Dengan Gempolin ini kita tidak hanya memberikan sarana prasarana ke RW tetapi juga melihat kondisi RW dan RT tersebut. Semuanya disesuaikan dengan kondisi topologinya,” ujar Wahidin.
Hingga kini, sekitar 21 RT telah terkonfirmasi bekerja sama dan masuk dalam sistem Gempolin. Ratusan warga juga telah mendaftarkan diri untuk mengikuti program pemilahan sampah tersebut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!