Fiqih Zakat: Hukum Membayar Zakat dengan Piutang
Akan tetapi praktek membayar zakat dengan piutang kepada orang yang berutang menurut pendapat yang lemah diperbolehkan dan sah sebagai zakat. Sebab disamakan dengan praktek harta titipan yang berada di tangan mustahiq zakat, kemudian pihak pemilik harta memberikan hak kepemilikannya atas harta tersebut kepada pihak mustahiq yang dititipi tersebut atas nama zakat. Maka sah dan mencukupi sebagai zakat.
Ikhtilaf tersebut sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fathul Mu’in dan Hasyiyah I’anatut Thalibin sebagai berikut:
ولو قال لغريمه جعلت ما عليك زكاة لم يجزئ على الأوجه إلا إن قبضه ثم رده إليه (قوله: ولو قال) أي الدائن لغريمه، أي المدين.(قوله: لم يجزئ) أي لم يجزئ ما جعله له عن الزكاة لاتحاد القابض والمقبض. (قوله: على الأوجه) مقابله يجزئ، كالوديعة إذا كانت عند مستحق للزكاة فملكه المالك إياها زكاة، فإنه يجزى.(قوله: إلا إن قبضه الخ) أي إلا إن قبض الدائن دينه من المدين، ثم رده على مدينه بنية الزكاة، فإنه يجزئ عن الزكاة
Artinya, “Jika pihak yang mengutangkan berkata kepada orang yang berutang, “Saya jadikan utang yang menjadi tanggunganmu sebagai zakat”, maka menurut pendapat yang kuat hukumnya tidak mencukupi, kecuali apabila ia menerimanya, kemudian mengembalikannya kepada pihak yang berutang.
Ungkapan mushanif “tidak mencukupi”, maksudnya adalah tidak mencukupi sebagi zakat karena tunggalnya pihak yang menyerahkan dan menerima harta. Ungkapan mushanif “menurut pendapat yang kuat”, menurut pendapat pembandingnya adalah cukup sebagai zakat, seperti harta titipan yang berada pada mustahiq zakat yang kemudian dialihkan kepemilikannya oleh pemilik harta kepada pihak mustahiq tersebut sebagai zakat, maka mencukupi sebagai zakat. Ungkapan mushanif “kecuali apabila ia menerimanya dan seterusnya”, maksudnya kecuali apabila pihak pemberi utang menerima pelunasan utangnya dari orang yang berhutang, kemudian ia mengembalikannya kepada orang yang berutang dengan niat zakat, maka mencukupi sebagai zakat.” (Zainuddin Ahmad bin Abdil Aziz Al-Malibari dan Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Fathul Mu’in dan Hasyiyah I’anatut Thalibin, juz II, halaman 218).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!