Fiqih Zakat: Hukum Membayar Zakat dengan Piutang
Karenanya kedua tujuan itu akan saling berlawanan dan karakter orang tidak mungkin dapat dibatasi, sehingga kedua peran tersebut tidak boleh berada dalam diri satu orang.
Karenanya apabila orang yang menggadaikan barang mewakilkan penjualan barang gadaiannya kepada pihak penerima gadai agar bisa digunakan untuk melunasi hutangnya, maka tidak mencukupi (tidak sah), sebab rawan terjadi kesalahpahaman mempercepat penjualan harta gadaian.” (Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazhair, juz II, halaman 26).
Atas dasar prinsip di atas, wakil penyaluran zakat tidak boleh memberikan zakatnya muzakki kepada dirinya sendiri. Sebab ia berperan ganda sebagai penerima untuk dirinya, dan sebagai pihak yang menyerahkan sebagai wakil dari muzakki. Syekh Abdullah bin Hijazi As-Syarqawi mengatakan:
ولا يجوز للوكيل الأخذ منها لاتحاد القابض والمقبض نعم إن عين له قدرا جاز لأن المقبض حينئذ هو المالك
Artinya: “Tidak diperbolehkan bagi wakil untuk mengambil dari zakat sebab akan terjadi ketunggalan pihak penerima dan pemberi.
Namun apabila pihak muzakki sudah menentukan kadar tertentu baginya (wakil), maka diperbolehkan sebab orang yang menyerahterimakan adalah si pemilik harta (muzakki).” (Abdullah bin Hijazi bin Ibrahim AS-Syarqowi, Hasyiyah As-Syarqawi, juz II, Halaman 108).
Demikian pula dalam kasus penunaian zakat dari pembebasan piutang atas orang lain, hukumnya tidak sah dan tidak mencukupi sebagai zakat menurut pendapat Al-Aujah (yang lebih kuat). Sebab terdapat unsur ittihadul qabidh wal muqbidh, atau tunggalnya pihak penerima dan pihak yang menyerahkan. Dalam hal ini, pihak mustahiq zakat yang juga pihak yang berutang berperan ganda sebagai pihak yang menyerahkan harta zakat atas nama muzakki dan penerima zakat atas nama dirinya sendiri. Menurut pendapat ini, solusi supaya terhindar dari praktek yang dilarang adalah didahului proses serah terima pelunasan utang terlebih dahulu, kemudian pihak muzakki memberikannya lagi kepada mustahiq zakat dengan niat membayar zakat. Yang demikian sah dan mencukupi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!