DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Buntet Cirebon Punya Kiai Abbas yang Fenomenal
Pesantren Buntet Cirebon tidak sehebat seperti sekarang jika kita ingat perjalanan perintisannya di masa lalu. Mbah Muqoyyim harus uzlah, pergi mengasingkan diri, menjauh dari hingar bingar keraton di mana ia mengabdikan dirinya di sana, di Keraton Kanoman.
Pada akhirnya, dipertengahan abad 17,tepatnya tahun 1770 ia memilih meninggalkan Keraton Kanoman menuju ke arah timur selatan Cirebon (A. Zaini Hasan, 2014: 19)
Lantas, ia pun kemudian mendirikan Pesantren Buntet yang berjarak 12 kilometer dari Keraton. Mbah Muqoyyim pun mulai mendirikan pemondokan sederhana, didampingi beberapa santri yang mengikutinya. Tentunya daerah Buntet masa itu, adalah daerah hutan belukar, dan jauh dari mana-mana.
Jika melihat pergolakan politik di Cirebon pada tahun 1788-1808, bisa dikatakan zaman itu, ada semangat peralihan medan dakwah, yang semula dilakukan dari keraton, beralih akhirnya dari pesantren-pesantren yang di miliki para kiai sahabat Mbah Muqoyyim ini.
Ini khususnya terjadi, setelah keraton-keraton di Cirebon, berhasil disetir, dan di dominasi Belanda, sehingga marwah keraton di mata masyarakat, dianggap tidak mampu lagi mengemban amanah rakyatnya. Maka pada saat itulah, pesantren yang akhirnya menjadi tumpuan harapan masyarakat. Pesantren mengambil alih peran tersebut.
Dicurigai Belanda
Maka kemudian wajarlah kalau pesantren, baik yang ada di Babakan Ciwaringin yang didirikan Ki Jatira, maupun Mbah Muqoyyim di Buntet, menjadi sasaran kemarahan Belanda, karena mereka melakukan perlawanan terhadap penjajah yang dipelopori oleh para kiai-kiai pesantrennya.
Pergerakan keagamaan Mbah Muqoyyim yang militan, membuat Belanda mencurigainya, hingga sampai dua kali Belanda menyerang pemukiman Mbah Muqoyyim, dan pesantrennya, sehingga ia pun harus menghindar sampai ke Pemalang, Jawa tengah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!