Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Destinasi Pantai Paling Membahagiakan di Dunia Versi JustCover 5 Aug 2026 Mariano Peralta Bahagia Jalani Debut Manis Bersama Persib 5 Aug 2026 Pemerintah Umumkan Rangkaian Acara HUT Ke-81 RI 2026 5 Aug 2026 "Cahaya Hati" Debut, Warnai Pagelaran Sabang Merauke 2026 5 Aug 2026 Kades Rancaekek Kulon Buka Suara soal Polemik PTSL Rp.400 Ribu per Pemohon 5 Aug 2026 Satpol PP Ungkap Alasan Vendor SixNine Padel Tebang 10 Pohon 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026

DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Buntet Cirebon Punya Kiai Abbas yang Fenomenal

ED
Minggu, 26 Maret 2023 | 09:45 WIB
Bagikan
DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Buntet Cirebon Punya Kiai Abbas yang Fenomenal
  • Selama bulan Ramadan 1444 H ini, InsyaAllah akan hadir tulisan-tulisan dari Bambang Melga Suprayogi, M.Sn., yang mengunjungi beberapa pondok pesantren di Jawa Barat. Tulisan mengupas profil pesantren dan kiai sepuhnya, proses pendidikan dan amaliah yang biasa mereka jalankan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca yang budiman.

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

BAKDA SALAT Jum'at (24/3/2023) di Masjid Guntur tengah Perumnas Cirebon, penulis langsung menuju Pesantren Buntet, yang sangat tersohor itu.

Dari Perumnas Cirebon, daerah dimana tempat penulis dibesarkan ini, menuju ke Pesantren Buntet Cirebon hanya berkendara sekitar 20 menit saja. Itu pun andai tak salah jalan terlebih dulu.

Baca juga DARI PONPES KE PONPES | Tokoh Besar Pendiri Ponpes Leuwimunding dan Cisambeng di Majalengka DARI PONPES KE PONPES | Profil Pondok Pesantren Al Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon RAMADAN UPDATE DARI PONPES KE PONPES | Bertemu Kiai Musthofa Aqil Pimpinan Pesantren Ciwedus Kuningan DARI PONPES KE PONPES | Mengenal Mang Haji Abah dan Pesantren Hidayatul Hikmah Kutawaringin Soreang DARI PONPES KE PONPES | Pesantren Al Ittifaq Ciwidey Kabupaten Bandung Bertariqoh “Sayuriyah” DARI PONPES KE PONPES | Mama Kiai Muhammad Faqih Sang Pendiri Pesantren Baitul Arqom Lembur Awi

Menyusuri Jalan Pantura yang panas, berkejaran dengan banyak kendaraan yang memacu kendaraannya dengan cepat, memerlukan kehati-hatian, dan harus ekstra konsentrasi, agar selamat sampai tujuan. Sampai akhirnya, berhasil juga penulis tiba di Pesantren Buntet Cirebon.

Pesantren Buntet, tempat yang sekarang ini, pesantrennya berada, lokasinya diantara dua desa: lebih 80% pesantren ini ada di wilayah administratif Desa Mertapada Kulon, dan sisanya bagian Barat milik Desa Munjul.

Nama pesantren ini sendiri bukanlah nama desa, melainkan hanya tempat/padepokan santri. Ada sekitar 70 pondokan saat ini, dan semua pondokan itu terikat oleh satu yayasan YLPI, yang menaungi semua pondok yang ada.

Sambil menanti kabar dari Teh Ika, seorang wanita yang menjadi pemandu informasi bagi penulis, untuk menghubungi siapa saja di Pesantren Buntet yang akan dijadikan narasumber, penulis sengaja bercengkrama dulu dengan para santri yang baru masuk satu tahun kemarin.

Canda dan tawa pun mewarnai obrolan dengan para santri baru iniini. Sambil sesekali menggoda mereka, bahwa mereka menjadi santri bukan karena dihukum oleh orangtuanya, dijauhkan dari mereka, namun anak-anak ini sedang disiapkan masa depannya, untuk bisa sukses nanti di akhiratnya.

"Lha ko mang, sukses cuma di akherat, lalu di dunianya bagaimana?," tanya satu santri yang paling kocak saat itu.

Dan jawab penulis,"Untuk sukses di dunianya... InsyaAllah harus ada ikhtiarnya dulu nantinya, karena jika ilmunya sudah punya, dunia akan mudah didapatkan". Begitulah pesan penulis pada para santri yang ikut mengerubungi penulis saat itu.

Sampai akhirnya, ada pesan dari Teh Ika, bahwa penulis harus bertemu dengan Kang Darda Ketua Sekretariat Pesantren Buntet, karena darinyalah nantinya yang akan memberi informasi terkait apa yang dibutuhkan oleh penulis.

Pesantren tua

Pesantren Buntet adalah pesantren tua di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Diperkirakan pesantren ini dirintis dan berdiri pada tahun 1770, setelah pendiri pesantren Mbah Muqoyyim, meninggalkan jabatannya sebagai mufti atau penghulu yang berwenang mengambil fatwa dan ijtihad dalam bidang keagamaan.

Dari sini tentunya kita faham, Mbah Muqoyyim dengan jabatan sebagai mufti, tentunya ia adalah seorang yang luas ilmunya. Menguasai ilmu ushul fikih, fikih dan syariat Islam serta memiliki sifat yang mulia, berkarakter kuat, wibawa, seorang yang terhormat, dan sehat secara lahir bathin, dan linuih pandangan kebatinannya. Sehingga ia berhak mengenalkan dan menerapkan syariat Islam pada umat di saat itu.

Pesantren Buntet Cirebon tidak sehebat seperti sekarang jika kita ingat perjalanan perintisannya di masa lalu. Mbah Muqoyyim harus uzlah, pergi mengasingkan diri, menjauh dari hingar bingar keraton di mana ia mengabdikan dirinya di sana, di Keraton Kanoman.

Pada akhirnya, dipertengahan abad 17,tepatnya tahun 1770 ia memilih meninggalkan Keraton Kanoman menuju ke arah timur selatan Cirebon (A. Zaini Hasan, 2014: 19)

Lantas, ia pun kemudian mendirikan Pesantren Buntet yang berjarak 12 kilometer dari Keraton. Mbah Muqoyyim pun mulai mendirikan pemondokan sederhana, didampingi beberapa santri yang mengikutinya. Tentunya daerah Buntet masa itu, adalah daerah hutan belukar, dan jauh dari mana-mana.

Jika melihat pergolakan politik di Cirebon pada tahun 1788-1808, bisa dikatakan zaman itu, ada semangat peralihan medan dakwah, yang semula dilakukan dari keraton, beralih akhirnya dari pesantren-pesantren yang di miliki para kiai sahabat Mbah Muqoyyim ini.

Ini khususnya terjadi, setelah keraton-keraton di Cirebon, berhasil disetir, dan di dominasi Belanda, sehingga marwah keraton di mata masyarakat, dianggap tidak mampu lagi mengemban amanah rakyatnya. Maka pada saat itulah, pesantren yang akhirnya menjadi tumpuan harapan masyarakat. Pesantren mengambil alih peran tersebut.

Dicurigai Belanda

Maka kemudian wajarlah kalau pesantren, baik yang ada di Babakan Ciwaringin yang didirikan Ki Jatira, maupun Mbah Muqoyyim di Buntet, menjadi sasaran kemarahan Belanda, karena mereka melakukan perlawanan terhadap penjajah yang dipelopori oleh para kiai-kiai pesantrennya.

Pergerakan keagamaan Mbah Muqoyyim yang militan, membuat Belanda mencurigainya, hingga sampai dua kali Belanda menyerang pemukiman Mbah Muqoyyim, dan pesantrennya, sehingga ia pun harus menghindar sampai ke Pemalang, Jawa tengah.

Dan itu baru reda, setelah wilayah Cirebon diserang wabah penyakit yang mematikan, sehingga Belanda dan Keraton memerlukan Mbah Muqoyyim untuk membantu mengatasi itu semua, hingga kedatangan Mbah Muqoyyim pun bisa meredakan wabah penyakit, dan Belanda pun akhirnya mengakui keberadaan Mbah Muqoyyim yang merupakan rahmat untuk semuanya.

Tarekat 

Apa tarekatnya Mbah Muqoyyim ? Mbah Muqoyyim seperti yang terdapat dalam beberapa naskah yang mencatatkannya, bahwa ia pernah belajar tarekat kepada Syekh Muhyi Pamijahan tetapi ia tidak menyebarkannya secara terbuka. Hal ini memungkinkan silsilah tarekat Syatariyah yang ada di Pesantren Buntet memiliki jalur yang sama seperti di Keraton Kanoman (Mahrus Elmawa, 2015: 6).

Adapun tarekat lainnya adalah tarekat Tijaniah.

Silsilah Tarekat Syatariyah Mbah Muqayyim bisa ditemukan dalam naskah Kiai Mas Arifin di Tuk, (Talun-Sumber). Ia menerima ijazah tarekat Syatariyah ketika tinggal di Talun, Sumber, daerah sekitar Kabupaten Cirebon, kemudian ia berikan kepada Kiai Mas Arifin.

Dalam naskah tersebut tersusun silsilah tarekat Syatariyah Mbah Muqayyim sebagai berikut : Silsilah Tarekat Syatariyah Mbah Muqayyim

Rasulullah SAW / Ali kang putra Abi Thalib ra. / Husain al-Syahid Zain al-Abidin / Muhammad Baqir / Ja’far al-Sidiq Sultan Arifin Abi Yazid al-Bustami / Syaikh Muhammad Magrib Abu Mudlfar Maulana Rumi Tusai / Abi Hasani al-Harqani Huda Aqli Mawar al-Nahari Sayyid Muhammad / Asyiq Syaikh Abd Allah al Syatari / Hidayatu Sarmasani / Syaikh Haji Husuri Syaikh Muhammad Gaus kang putra Hatir al-Din Sayyid Wajh al-Dini kang putra bangsa Uluwiri Sigat Allah kang putra Sayyid Rauh Allah Sayidina Abi Mawahib Abd Allah Ahmad kang putra Ali kang bangsa Abbas ing Syanawi negarane Syaikh Ahmad kang putra Muhammad ing Madinah negarane kang masyhur kelawan Syaikh Ahmad ing Qusasi Syaikh Abd al-Ra‟uf kang putra Ali kang bangsa Syaih Fansuri ing Singkil negarane. Syaikh Haji al-Muhyi ing Karang negarane ing Safarwadi Pedukuhane Kiyahi Pengulu ing Batang negarane kiyahi Talabuddin arane Kiyahi Muqayyim ing Syarbon negarane ing Sampiran Pedukuhane Kiyahi Mas Arifin Syirbon negarane Atuk Pedukuhane Kiyahi Haji Syarqawi Majalengka negarane Babakan Pedukuhane. Kiyahi Bulqiyah Syirbon negarane Sidapurna Pedukuhane. (Sumber Yoyon, 67/68)

Amaliah

Apa amalan yang sering dilakukan Mbah Muqoyyim ini ? Amalan yang sering diamalkan Mbah Muqoyyim hingga dilanjutkan oleh anak cucu juga para santri dari pesantren Buntet ini, adalah mengamalkan dzikiran, salawatan, pembacaan kitab-kitab, santunan atau sedekahan, dan hal-hal lainnya yang di anjurkan oleh agama.

Di bawah ini adalah nama pendiri dan penerus kepemimpinan Pondok Pesantren Buntet, adalah sebagai berikut:

  1. K.H. Muqoyyim bin Abdul Hadi (Pendiri Pondok Pesantren Buntet)
  2. K.H. Muta'ad (Periode pertama setelah wafatnya Mbah Muqoyyim 1785–1852)
  3. K.H. Abdul Jamil (1842–1919)
  4. K.H. Abbas (1879–1946)
  5. K.H. Mustahdi Abbas (1913–1975)
  6. K.H. Mustamid Abbas (1975–1988)
  7. K.H. Abdullah Abbas (1988– 2007)
  8. K.H. Nahduddin Abbas (2007- hingga sekarang)

Sang pendiri pesantren Mbah Muqoyyim ahirnya dipanggil Allah Swt. Jasadnya dimakamkan disalah satu tempat petilasannya, yaitu di Desa Tuk daerah Sindanglaut, Kabupaten Cirebon.

Makamnya ini berdekatan dengan makam Kiai Ardi Sela, teman seperjuangannya. Mbah Muqoyyim meninggalkan Pondok Buntet pesantren untuk selamanya.

Mbah Muqoyyim telah menanamkan semangat perjuangannya kepada putra-putranya, sekaligus kepada para santrinya semua, untuk terus menerus bersemangat memperjuangkan Islam, menjaga pondok pesantrennya, dan menyebarkan semangat syiar Islam pada para santrinya, untuk membangun pondok pesantren di seluruh pelosok negeri ini.

Kiai Abbas yang Fenomenal

Dari seluruh keturunan Kiai Muqoyyim Buntet ini, Kiai Abbas Buntetlah yang paling fenomenal dan dicatat dalam tinta emas sejarah perjuangan umat Muslim Indonesia. Itu karena berkat Kiai Abbaslah yang mengkomandoi pergerakan santri melawan agresi militer Belanda pada 10 November 1945.

Kiai Abbas membawa pasukan khusus dari kalangan ulama dan santri dari wilayah Cirebon. Diantaranya, Mbah Kiai Amin Sepuh dari Babakan Ciwaringin yang ikut menyertainya, juga adik-adik Kiai Abbas. Mereka bersama Kiai Hasyim Asy'ari dari Tebu Ireng JawaTimur, dan para santri akhirnya berhasil membuktikan kecintaannya pada tanah air, hubbul wathon minal iman.

Pada proses selanjutnya, terjadi pertempuran 10 November 1945 yang merupakan klimak dari gelora Resolusi Jihadnya Mbah Hasyim Asy'ari, yang difatwakan pada tanggal 22 Oktober 1945. Peristiwa itu akhirnya dijadikan cikal bakal dari lahirnya Hari Santri Nasional (HSN).

Wallahu'alam bissawab. 

Alhamdulilah.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.