Ancaman Radikalisasi Anak : Meningkatnya Perekrutan Melalui Media Daring dan Game Online
Di grup privat tersebut, anak-anak diajarkan doktrin ekstremis yang memanfaatkan ketidakpastian dan rasa pencarian jati diri anak-anak di dunia maya. "Anak-anak akan diajak masuk ke dalam grup lebih tertutup, dan di sana mereka mulai terpapar paham radikal. Proses ini berlangsung dengan sangat halus dan sistematis," tambah Mayndra. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai diyakinkan untuk bergabung dengan jaringan terorisme dan ikut dalam aktivitas yang lebih berbahaya.
Untuk menangani masalah ini, Densus 88 bekerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah dan masyarakat, termasuk Kementerian PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak), KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), Kemensos, dan lembaga lainnya. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa anak-anak yang terpapar radikalisasi mendapatkan pemulihan dan perlindungan yang dibutuhkan agar tidak terjerumus lebih jauh ke dalam jaringan terorisme.
Selain itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, mengungkapkan bahwa kerentanan anak terhadap radikalisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial. "Faktor-faktor seperti bullying, broken home, kurang perhatian keluarga, pencarian identitas diri, marginalisasi sosial, serta rendahnya literasi digital dan pemahaman agama menjadi penyebab utama mengapa anak-anak lebih mudah terpapar paham radikal," ujar Trunoyudo. Hal ini menandakan bahwa faktor sosial memainkan peran besar dalam meningkatkan kerentanannya terhadap kelompok-kelompok radikal.
Pada konferensi tersebut, juga diumumkan bahwa Densus 88 telah menangkap lima orang yang diduga menjadi perekrut bagi anak-anak tersebut. Kelima tersangka ini berperan mengendalikan komunikasi dan memfasilitasi perekrutan melalui media sosial. "Kelima tersangka ini, yang berasal dari berbagai daerah seperti Medan, Banggai, Sleman, Tegal, dan Agam, diduga terlibat dalam proses perekrutan dan indoktrinasi anak-anak untuk bergabung dengan kelompok teror," jelas Trunoyudo.
Densus 88 menegaskan bahwa mereka akan terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap lebih banyak jaringan yang mungkin terlibat dalam perekrutan anak-anak. Selain itu, pihaknya juga bekerja sama dengan berbagai pihak terkait untuk melindungi anak-anak yang telah terpapar paham radikal dan memberikan mereka akses pada rehabilitasi serta pemulihan psikologis.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!