Ancaman Radikalisasi Anak : Meningkatnya Perekrutan Melalui Media Daring dan Game Online

ED
Rabu, 19 November 2025 | 05:37 WIB
Bagikan
Ancaman Radikalisasi Anak : Meningkatnya Perekrutan Melalui Media Daring dan Game Online

VISI.NEWS | JAKARTA - Fenomena baru muncul dalam perang melawan terorisme di Indonesia. Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) melaporkan lonjakan signifikan jumlah anak yang terpapar paham radikal, dengan para pelaku perekrutan kini memanfaatkan media daring sebagai saluran utama. Hal ini pertama kali disampaikan oleh Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, dalam sebuah konferensi pers di Mabes Polri pada Selasa (18/11/2025). Dalam laporannya, Mayndra mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap perkembangan perekrutan yang menargetkan anak-anak usia 10 hingga 18 tahun, yang tahun ini tercatat sebanyak 110 orang.

"Tren ini sangat mengkhawatirkan. Dari 2011 hingga 2017, Densus 88 hanya mengidentifikasi sekitar 17 anak yang terpapar radikalisasi. Namun, pada 2025 ini, jumlahnya melonjak drastis, ada sekitar 110 anak yang teridentifikasi. Ini menunjukkan adanya proses perekrutan yang sangat masif melalui media daring," ujar Mayndra, menggambarkan betapa pesatnya perubahan yang terjadi dalam pola rekrutmen terorisme.

Menurut Densus 88, seluruh proses perekrutan berlangsung sepenuhnya secara online. Para pelaku dan korban tidak saling mengenal secara fisik. Mereka menggunakan platform media sosial dan aplikasi game untuk menghubungkan anak-anak dengan kelompok teror. "Kami melihat ada sekitar 110 anak yang terindikasi telah terekrut, dan mereka berasal dari 23 provinsi, dengan konsentrasi tertinggi di Jawa Barat dan DKI Jakarta," lanjut Mayndra. Pihaknya menegaskan, meskipun dua provinsi ini paling banyak terpapar, penyelidikan tetap akan dilakukan secara menyeluruh di seluruh Indonesia.

Densus 88 memaparkan, awal propaganda disebarkan melalui platform terbuka seperti Facebook, Instagram, hingga game online. "Platform ini digunakan untuk menyebarkan visi-visi yang tampak utopis, yang dalam pandangan anak-anak bisa mewadahi fantasi mereka dan menarik perhatian mereka untuk bergabung," jelas Mayndra. Setelah anak-anak tertarik, mereka diarahkan ke grup yang lebih tertutup, di mana proses indoktrinasi berlangsung lebih intensif.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.