525 Bibit Bakau Ditanam, Pulau Pari Didorong Makin Lestari
Karena itu, menjaga mangrove membutuhkan konsistensi, bukan hanya kegiatan penanaman sesaat. Pemantauan, perawatan, edukasi, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar manfaat penanaman dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Kolaborasi NNA dan Dus Duk Duk di Pulau Pari memperlihatkan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui kerja bersama. Dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dapat mengambil peran masing-masing untuk memastikan program lingkungan tidak berhenti pada kegiatan simbolis.
Dari selembar kertas yang kembali memiliki nilai hingga bibit bakau yang ditanam di pesisir, berbagai langkah tersebut membawa satu tujuan yang sama: mengurangi dampak terhadap lingkungan dan menciptakan manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Pulau Pari pun menjadi salah satu ruang untuk mewujudkan komitmen tersebut. Ratusan bibit bakau yang ditanam diharapkan dapat tumbuh menjadi bagian dari ekosistem pesisir yang lebih kuat.
Pada akhirnya, keberhasilan pelestarian lingkungan tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi dari kemampuan menjaga bibit tersebut hingga tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat bagi alam serta masyarakat.
525 bibit mungkin menjadi angka yang sederhana. Namun, jika dirawat dan dijaga bersama, ratusan bibit itu dapat menjadi awal dari tumbuhnya benteng hijau baru di pesisir Pulau Pari—sekaligus warisan lingkungan bagi generasi yang akan datang.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!