Whoosh dan Jejak Korupsi: Kronologi Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang Kini Diselidiki KPK
Saat ini, publik semakin fokus pada masalah transparansi biaya proyek *Whoosh* dan hasil dari penyelidikan yang dilakukan oleh KPK. Dengan adanya dugaan korupsi yang sedang diselidiki, masyarakat berharap agar KPK dapat membuka tabir gelap terkait penyimpangan anggaran dalam proyek ini dan memastikan bahwa pihak-pihak yang terlibat dapat mempertanggungjawabkan tindakan mereka.
Berbicara mengenai rincian cost overrun, total biaya proyek *Whoosh* yang awalnya disepakati sebesar US$6,07 miliar kini melonjak menjadi sekitar US$7,28 miliar (setara dengan Rp119,79 triliun). Ini mencatatkan pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar US$1,21 miliar atau sekitar Rp19,96 triliun. Menurut kesepakatan, porsi pembengkakan biaya ini ditanggung bersama oleh konsorsium Indonesia (PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia) dan konsorsium China.
Konsorsium Indonesia, yang memegang 60% saham dalam proyek ini, harus menanggung sekitar US$726 juta (sekitar Rp12 triliun) dari total cost overrun. Untuk menutupi porsi tersebut, konsorsium Indonesia menggunakan dua sumber dana, yakni Penyertaan Modal Negara (PMN) dari APBN sebesar 25% dan pinjaman tambahan dari China Development Bank (CDB) sebesar 75% atau sekitar US$542,7 juta.
Pinjaman tambahan untuk menutupi cost overrun ini datang dengan suku bunga yang lebih tinggi, yakni sekitar 3,2 hingga 3,3 persen per tahun, berbeda dengan pinjaman awal yang hanya memiliki suku bunga sekitar 2 persen. Perbedaan ini semakin menambah beban keuangan proyek yang harus ditanggung oleh konsorsium Indonesia, terutama PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang memegang mayoritas saham di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia.
Kerugian yang ditanggung oleh konsorsium Indonesia, terutama PT KAI, semakin besar. Pada semester I-2025, PSBI mencatatkan kerugian sebesar Rp1,625 triliun, sementara pada tahun 2024, PT KAI menanggung kerugian sebesar Rp2,24 triliun. Ini menjadi beban finansial yang semakin berat di tengah upaya restrukturisasi utang dengan Tiongkok, sementara KPK terus berfokus untuk mengungkap dugaan korupsi yang menjadi salah satu akar masalah dari pembengkakan biaya proyek ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!