VISI | Who Am I?
Jika pertanyaan itu dijawab dengan jujur, bisa jadi persoalan bangsa bisa diselesaikan lebih cepat. Karena orang yang mengenal dirinya tidak akan takut mengakui kesalahan. Ia tidak akan malu meminta maaf. Ia tidak akan gengsi mundur ketika merasa tidak mampu. Justru di situlah letak kebesarannya.
Sayangnya, yang sering kita lihat hari ini justru sebaliknya. Banyak orang sibuk mengenal kelemahan orang lain. Tetapi lupa mengenal dirinya sendiri. Mudah mengkritik. Sulit introspeksi. Mudah menyalahkan. Sulit bercermin. Padahal peradaban besar selalu lahir dari manusia-manusia yang mampu berdialog dengan dirinya sendiri.
Maka jika kita sungguh-sungguh ingin membangun Generasi Emas 2045, pendidikan harus kembali pada hakikatnya. Tidak cukup hanya mengajarkan ilmu. Tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan. Tetapi juga mengajarkan kesadaran diri. Anak-anak harus belajar bertanya: Siapa saya? Apa tujuan hidup saya? Apa kelebihan saya? Apa kekurangan saya? Apa yang harus saya perbaiki? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan melahirkan manusia dewasa.
Pada akhirnya, dunia tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kurang adalah orang yang mengenal dirinya sendiri. Karena ketika seseorang benar-benar mampu menjawab pertanyaan "Who am I?", ia akan menemukan arah hidupnya. Ia tidak mudah sombong ketika berhasil. Ia tidak mudah putus asa ketika gagal. Ia tidak mudah marah ketika dikritik. Dan ia tidak akan mempertahankan jabatan ketika sudah tidak mampu menjalankannya.
Itulah pelajaran paling penting yang seharusnya diajarkan sekolah. Bukan hanya bagaimana menjadi manusia yang cerdas. Tetapi bagaimana menjadi manusia yang dewasa. Karena bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pintar. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mengenal dirinya sendiri. Dan semuanya berawal dari satu pertanyaan sederhana: Who am I?**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!