VISI | Who Am I?
Dalam dunia pendidikan modern, kita sering berbicara tentang kompetensi. Kita berbicara tentang literasi. Kita berbicara tentang numerasi. Kita berbicara tentang kecakapan abad ke-21. Semua itu penting. Namun ada satu kompetensi yang sering terlupakan: kompetensi mengenal diri sendiri. Padahal inilah pondasi seluruh karakter. Seseorang yang mengenal dirinya akan lebih mudah mengenal orang lain. Seseorang yang memahami kekurangannya akan lebih rendah hati. Seseorang yang memahami kelebihannya tidak akan mudah sombong. Karena ia sadar bahwa setiap manusia memiliki ruang belajar yang tidak pernah selesai.
Ironisnya, pendidikan kita masih terlalu sibuk mengukur kemampuan akademik. Anak-anak diajarkan menjawab soal. Tetapi jarang diajak berdialog dengan dirinya sendiri. Mereka ditanya: "Berapa nilai matematikamu?" Tetapi jarang ditanya: "Siapa dirimu?" Mereka diuji tentang pengetahuan. Tetapi jarang diajak merefleksikan kehidupannya. Akibatnya, lahirlah generasi yang pintar menjawab ujian tetapi bingung menghadapi kehidupan. Mereka tahu banyak hal. Tetapi tidak tahu siapa dirinya.
Sebagai praktisi pendidikan dan hipnoterapi, penulis sering menemukan akar banyak persoalan manusia berasal dari satu hal: ia tidak mengenal dirinya sendiri. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia tidak memahami potensi dirinya. Ia tidak menerima kekurangannya. Akibatnya hidup dijalani berdasarkan penilaian orang lain. Bukan berdasarkan kesadaran dirinya sendiri. Dalam NLP (Neuro-Linguistic Programming), kesadaran diri adalah pintu perubahan. Manusia tidak akan berubah sebelum ia mengenali dirinya. Ia tidak akan berkembang sebelum ia berdamai dengan dirinya. Dan ia tidak akan menjadi pemimpin yang baik sebelum mampu memimpin dirinya sendiri.
Karena itu, pertanyaan "Who am I?" sesungguhnya adalah pertanyaan kepemimpinan. Bukan hanya untuk siswa. Tetapi juga untuk guru. Untuk pejabat. Untuk kepala sekolah. Untuk kepala daerah. Bahkan untuk pemimpin negara. Bayangkan jika setiap pemimpin benar-benar berani bertanya kepada dirinya sendiri: Siapa saya? Apakah saya masih layak memimpin? Apakah keputusan saya membawa manfaat? Apakah saya masih mendengar suara rakyat? Apakah saya masih mampu menjalankan amanah ini?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!