VISI | Who Am I?
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA satu pertanyaan sederhana yang sesungguhnya sangat sulit dijawab oleh banyak orang. Who am I? Siapa saya?
Pertanyaan itu tampak sederhana. Bahkan anak sekolah pun bisa mengucapkannya dengan mudah. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit manusia yang hidup puluhan tahun tanpa pernah benar-benar menemukan jawabannya.
Sebagai guru yang telah menikmati dunia pendidikan selama kurang lebih tiga puluh lima tahun, penulis sering menemukan satu kenyataan menarik: banyak peserta didik yang cerdas, banyak yang berprestasi, banyak yang memiliki kemampuan akademik luar biasa, tetapi tidak semuanya mengenal dirinya sendiri.
Padahal di situlah sesungguhnya inti pendidikan. Bukan sekadar membuat anak pandai menjawab soal. Bukan sekadar menghasilkan nilai tinggi. Bukan sekadar mengejar ranking. Melainkan membantu manusia menemukan dirinya.
Selama bertahun-tahun berada di ruang kelas, penulis menyaksikan bagaimana peserta didik bertumbuh. Ada yang datang dengan penuh percaya diri. Ada yang pemalu. Ada yang cepat memahami pelajaran. Ada yang harus berjuang berkali-kali untuk memahami satu konsep sederhana. Namun satu hal yang selalu menarik adalah proses mereka menghadapi kegagalan.
Di situlah karakter mulai terlihat. Penulis sering mengatakan kepada mereka: "Hidup bukan tentang tidak pernah jatuh. Hidup adalah tentang jatuh, bangun, lalu bangun lagi." Karena sesungguhnya kedewasaan tidak lahir dari keberhasilan. Kedewasaan lahir dari cara seseorang menghadapi kegagalan. Orang yang tidak pernah gagal sering kali tidak mengenal dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang pernah jatuh dan berhasil bangkit biasanya lebih memahami siapa dirinya. Ia tahu batas kemampuannya. Ia tahu kelemahannya. Ia tahu apa yang harus diperbaiki. Dan yang paling penting, ia tahu ke mana harus melangkah.
Di sinilah kata "dewasa" menemukan maknanya yang sesungguhnya. Sayangnya, masyarakat sering keliru memahami kedewasaan. Banyak yang mengira dewasa ditentukan oleh usia. Semakin tua seseorang, semakin dewasa. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Ada orang yang usianya lima puluh tahun tetapi masih sulit menerima kritik. Ada yang sudah menjadi pemimpin tetapi mudah marah ketika diingatkan. Ada yang memiliki jabatan tinggi tetapi tidak mampu mengendalikan ego. Sebaliknya, ada anak muda yang usianya belum tiga puluh tahun tetapi sudah mampu berpikir jernih, menerima masukan, dan mengakui kesalahan. Maka dewasa bukan soal umur. Dewasa adalah kemampuan mengenal diri.
Dalam dunia pendidikan modern, kita sering berbicara tentang kompetensi. Kita berbicara tentang literasi. Kita berbicara tentang numerasi. Kita berbicara tentang kecakapan abad ke-21. Semua itu penting. Namun ada satu kompetensi yang sering terlupakan: kompetensi mengenal diri sendiri. Padahal inilah pondasi seluruh karakter. Seseorang yang mengenal dirinya akan lebih mudah mengenal orang lain. Seseorang yang memahami kekurangannya akan lebih rendah hati. Seseorang yang memahami kelebihannya tidak akan mudah sombong. Karena ia sadar bahwa setiap manusia memiliki ruang belajar yang tidak pernah selesai.
Ironisnya, pendidikan kita masih terlalu sibuk mengukur kemampuan akademik. Anak-anak diajarkan menjawab soal. Tetapi jarang diajak berdialog dengan dirinya sendiri. Mereka ditanya: "Berapa nilai matematikamu?" Tetapi jarang ditanya: "Siapa dirimu?" Mereka diuji tentang pengetahuan. Tetapi jarang diajak merefleksikan kehidupannya. Akibatnya, lahirlah generasi yang pintar menjawab ujian tetapi bingung menghadapi kehidupan. Mereka tahu banyak hal. Tetapi tidak tahu siapa dirinya.
Sebagai praktisi pendidikan dan hipnoterapi, penulis sering menemukan akar banyak persoalan manusia berasal dari satu hal: ia tidak mengenal dirinya sendiri. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia tidak memahami potensi dirinya. Ia tidak menerima kekurangannya. Akibatnya hidup dijalani berdasarkan penilaian orang lain. Bukan berdasarkan kesadaran dirinya sendiri. Dalam NLP (Neuro-Linguistic Programming), kesadaran diri adalah pintu perubahan. Manusia tidak akan berubah sebelum ia mengenali dirinya. Ia tidak akan berkembang sebelum ia berdamai dengan dirinya. Dan ia tidak akan menjadi pemimpin yang baik sebelum mampu memimpin dirinya sendiri.
Karena itu, pertanyaan "Who am I?" sesungguhnya adalah pertanyaan kepemimpinan. Bukan hanya untuk siswa. Tetapi juga untuk guru. Untuk pejabat. Untuk kepala sekolah. Untuk kepala daerah. Bahkan untuk pemimpin negara. Bayangkan jika setiap pemimpin benar-benar berani bertanya kepada dirinya sendiri: Siapa saya? Apakah saya masih layak memimpin? Apakah keputusan saya membawa manfaat? Apakah saya masih mendengar suara rakyat? Apakah saya masih mampu menjalankan amanah ini?
Jika pertanyaan itu dijawab dengan jujur, bisa jadi persoalan bangsa bisa diselesaikan lebih cepat. Karena orang yang mengenal dirinya tidak akan takut mengakui kesalahan. Ia tidak akan malu meminta maaf. Ia tidak akan gengsi mundur ketika merasa tidak mampu. Justru di situlah letak kebesarannya.
Sayangnya, yang sering kita lihat hari ini justru sebaliknya. Banyak orang sibuk mengenal kelemahan orang lain. Tetapi lupa mengenal dirinya sendiri. Mudah mengkritik. Sulit introspeksi. Mudah menyalahkan. Sulit bercermin. Padahal peradaban besar selalu lahir dari manusia-manusia yang mampu berdialog dengan dirinya sendiri.
Maka jika kita sungguh-sungguh ingin membangun Generasi Emas 2045, pendidikan harus kembali pada hakikatnya. Tidak cukup hanya mengajarkan ilmu. Tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan. Tetapi juga mengajarkan kesadaran diri. Anak-anak harus belajar bertanya: Siapa saya? Apa tujuan hidup saya? Apa kelebihan saya? Apa kekurangan saya? Apa yang harus saya perbaiki? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan melahirkan manusia dewasa.
Pada akhirnya, dunia tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kurang adalah orang yang mengenal dirinya sendiri. Karena ketika seseorang benar-benar mampu menjawab pertanyaan "Who am I?", ia akan menemukan arah hidupnya. Ia tidak mudah sombong ketika berhasil. Ia tidak mudah putus asa ketika gagal. Ia tidak mudah marah ketika dikritik. Dan ia tidak akan mempertahankan jabatan ketika sudah tidak mampu menjalankannya.
Itulah pelajaran paling penting yang seharusnya diajarkan sekolah. Bukan hanya bagaimana menjadi manusia yang cerdas. Tetapi bagaimana menjadi manusia yang dewasa. Karena bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pintar. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mengenal dirinya sendiri. Dan semuanya berawal dari satu pertanyaan sederhana: Who am I?**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!