VISI | Umar bin Khattab: Dari Pedagang Gandum Jadi Pemimpin Adil
Oleh Nuslih Jamiat
- Dosen Prodi Adbis - Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Telkom University
- Center of Excellence for SHE(Halal), Telkom University
MALAM itu gelap gulita. Seorang khalifah berjalan dengan tenang menembus padang pasir bersama pengawalnya, Aslam. Mereka sedang melakukan patroli rutin—bukan untuk mengawasi musuh, tetapi untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan. Di tengah perjalanan, terdengar tangis anak kecil dari sebuah kemah rompeng. Umar mendekati dan melihat seorang janda sedang memasak dengan panci kosong di atas api kecil. "Mengapa anakmu menangis?" tanya Umar. "Ia lapar, tuan. Kami tidak punya apa-apa lagi. Aku memasak batu ini agar anak-anak tertidur, berharap mereka pikir makanan akan segera matang," jawab sang janda dengan suara lirih.
Mendengar itu, hati Umar hancur. Tanpa menunggu lama, ia bergegas ke Baitul Mal, mengambil karung gandum seberat puluhan kilogram, dan memikulnya sendiri di punggungnya. Ketika Aslam ingin membantu, Umar menolak tegas: "Ini tanggung jawabku! Apakah engkau mau memikul beban dosaku di hari kiamat?" Umar tidak berhenti sampai di situ. Ia sendiri yang memasak gandum untuk keluarga itu, meniup-niup api agar cepat matang, hingga anak-anak itu kenyang dan tertidur. Inilah Umar bin Khattab—khalifah yang memikul gandum di punggungnya sendiri, yang sebelum menjadi pemimpin adalah seorang pedagang gandum yang jujur dan tegas.
Umar: Pedagang Gandum yang Sangat Jujur dan Tegas
Sebelum Islam datang, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang pedagang. Ia berasal dari keluarga terhormat Bani Adi, suku Quraisy, dan memiliki kemampuan membaca-menulis—sesuatu yang langka di masa Jahiliyah. Umar menjadi seorang pedagang dan melakukan beberapa perjalanan ke Romawi Bizantium dan Persia Sasaniyah, di mana ia bertemu dengan berbagai sarjana dan menganalisis masyarakat Romawi dan Persia.
Meski sebagai pedagang dia tidak terlalu berhasil secara materi dibanding Abu Bakar, tetapi Umar dikenal sangat jujur dan tegas dalam berdagang. Ia tidak pernah mengurangi timbangan, tidak menyembunyikan cacat barang, dan selalu menepati janji. Ketegasannya membuat orang segan, tetapi kejujurannya membuat orang percaya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!