VISI | Tertawalah Sebelum Dilarang
Sejarah telah berkali-kali mengajarkan bahwa kekuasaan yang alergi kritik akan tumbang oleh kesalahannya sendiri. Namun pelajaran itu sering diabaikan. Yang ada justru pembungkaman halus: kritik dilemahkan, suara berbeda dicurigai, dan kebenaran dipelintir agar sesuai dengan narasi penguasa.
Melihat semua ini, kadang kita ingin bertanya pada diri sendiri: jangan-jangan kita yang keliru menilai? Jangan-jangan semua ini hanya ilusi? Namun realitas terlalu terang untuk disangkal. Praktik-praktik tidak senonoh itu terjadi di depan mata, disiarkan luas, dan bahkan dibanggakan.
Mengapa Kita Masih Tertawa?
Di tengah semua kegetiran ini, mengapa kita masih tertawa? Mungkin karena tertawa adalah bentuk perlawanan paling sunyi. Ketika suara tidak didengar, ketika kritik tidak digubris, ketika keadilan terasa jauh, tertawa menjadi cara bertahan. Cara menjaga kewarasan.
“Tertawalah sebelum dilarang” bukan ajakan untuk menyerah, melainkan peringatan. Bahwa jika keadaan terus dibiarkan, bisa jadi suatu hari nanti bahkan tawa pun dianggap mengganggu stabilitas. Maka selama masih bisa, tertawalah. Tapi jangan berhenti berpikir. Jangan berhenti peduli.
Karena negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah keberanian untuk jujur dan komitmen untuk adil. Dan selama itu belum diperbaiki, barangkali tawa kitalah yang menjadi saksi: bahwa kita pernah sadar, pernah gelisah, dan pernah berharap negeri ini bisa lebih waras.
Tertawalah—bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena kita masih ingin menjaga nurani tetap hidup.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!