Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,768 Juta per Gram 25 Aug 2026 Daftar Harga BBM Pertamina Hari Ini 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Selasa 25 Agustus 2026 25 Aug 2026 Peringati Hari Pramuka ke-65, KDS Perkuat Semangat Pengabdian Generasi Muda 25 Aug 2026 122 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Warga Terdampak Kekeringan di Sukabumi 25 Aug 2026 12.517 Jiwa di Kota Sukabumi Terdampak Kesulitan Air Bersih 25 Aug 2026 5G-A Dukung Robot Humanoid Bertanding di Beijing 25 Aug 2026 BPBD Kota Sukabumi Catat Empat Kejadian Kebakaran Lahan Selama Agustus 25 Aug 2026 ECOVACS Bawa Robot Rumah Pintar ke Singapore Pop Toy Show 2026 25 Aug 2026 Konser Masih Jadi Primadona, Warga Hong Kong Makin Gemar Beli Tiket Mendadak 25 Aug 2026

VISI | Tertawalah Sebelum Dilarang

ED
Kamis, 15 Januari 2026 | 05:11 WIB
Bagikan
VISI | Tertawalah Sebelum Dilarang

Sejarah telah berkali-kali mengajarkan bahwa kekuasaan yang alergi kritik akan tumbang oleh kesalahannya sendiri. Namun pelajaran itu sering diabaikan. Yang ada justru pembungkaman halus: kritik dilemahkan, suara berbeda dicurigai, dan kebenaran dipelintir agar sesuai dengan narasi penguasa.

Melihat semua ini, kadang kita ingin bertanya pada diri sendiri: jangan-jangan kita yang keliru menilai? Jangan-jangan semua ini hanya ilusi? Namun realitas terlalu terang untuk disangkal. Praktik-praktik tidak senonoh itu terjadi di depan mata, disiarkan luas, dan bahkan dibanggakan.

Mengapa Kita Masih Tertawa?

Di tengah semua kegetiran ini, mengapa kita masih tertawa? Mungkin karena tertawa adalah bentuk perlawanan paling sunyi. Ketika suara tidak didengar, ketika kritik tidak digubris, ketika keadilan terasa jauh, tertawa menjadi cara bertahan. Cara menjaga kewarasan.

“Tertawalah sebelum dilarang” bukan ajakan untuk menyerah, melainkan peringatan. Bahwa jika keadaan terus dibiarkan, bisa jadi suatu hari nanti bahkan tawa pun dianggap mengganggu stabilitas. Maka selama masih bisa, tertawalah. Tapi jangan berhenti berpikir. Jangan berhenti peduli.

Karena negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah keberanian untuk jujur dan komitmen untuk adil. Dan selama itu belum diperbaiki, barangkali tawa kitalah yang menjadi saksi: bahwa kita pernah sadar, pernah gelisah, dan pernah berharap negeri ini bisa lebih waras.

Tertawalah—bukan karena semuanya baik-baik saja, tetapi karena kita masih ingin menjaga nurani tetap hidup.***

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.