VISI | Tertawalah Sebelum Dilarang

ED
Kamis, 15 Januari 2026 | 05:11 WIB
Bagikan
VISI | Tertawalah Sebelum Dilarang

Oleh Drajat

ADA kalanya kita ingin tertawa melihat negeri ini. Bukan tawa lepas penuh bahagia, melainkan tawa kecut—tawa yang lahir dari kelelahan batin. Tawa yang muncul karena terlalu sering menyaksikan hal-hal yang seharusnya tidak terjadi, tetapi justru menjadi peristiwa harian. Tertawalah sebelum dilarang, barangkali itu satu-satunya ruang kebebasan yang masih tersisa.

Betapa tidak, negeri ini seperti tidak pernah benar-benar belajar dari pengalaman. Musibah datang silih berganti, tetapi refleksi jarang dilakukan. Yang ada justru pengulangan—bahkan eskalasi—dari kesalahan yang sama. Hutan digunduli, sumber daya alam dikeruk tanpa rem, lingkungan dirusak atas nama investasi, lalu ketika banjir, longsor, dan kekeringan datang, semua berpura-pura terkejut. Seolah bencana adalah takdir semata, bukan akibat dari keserakahan yang direncanakan dengan matang.

Lebih ironis lagi, pernyataan yang keliru bisa berubah menjadi “kebenaran” hanya karena diucapkan oleh mereka yang berkuasa. Salah diulang-ulang, lalu direstui. Didukung. Dibela. Bahkan dijadikan doktrin. Di sinilah logika seringkali kalah oleh loyalitas, dan nalar dikalahkan oleh kepentingan. Yang benar tidak lagi penting, selama sejalan dengan barisan.

Kita hidup di zaman di mana jabatan sering kali tidak lagi ditentukan oleh kapasitas, melainkan oleh kedekatan. Kedekatan partai. Kedekatan keluarga. Kedekatan finansial. Balas budi politik menjadi mata uang paling laku. Akibatnya, orang-orang yang tidak paham substansi dipaksa mengelola sektor strategis. Yang terjadi bukan kemajuan, melainkan kekacauan yang dibungkus pidato indah.

Dalam dunia pendidikan, misalnya, kita menyaksikan betapa literasi nasional terus menjadi masalah klasik yang tidak pernah tuntas. Data demi data menunjukkan penurunan, tetapi respons kebijakan sering kali bersifat kosmetik. Seminar digelar, slogan diperbanyak, spanduk dipasang, tetapi budaya membaca dan berpikir kritis tetap terpinggirkan. Maka ketika hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) jeblok, semua saling menyalahkan. Peserta didik disorot, guru dipertanyakan, buku dipersalahkan. Namun jarang ada yang berani menunjuk akar masalahnya: ketidakseriusan negara membangun peradaban literasi.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.